Mahasiswa S3 DSI Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Ikuti Sosialisasi Ujian Komprehensif

Ponorogo, 31 Agustus 2026 — Program Studi Doktor (S3) Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menyelenggarakan Sosialisasi Ujian Komprehensif bagi mahasiswa S3 DSI Kelas A. Kegiatan berlangsung pada Senin, 31 Agustus 2026, pukul 16.00–17.30 WIB, bertempat di Aula DSI Lantai 3 Gedung Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 12 mahasiswa S3 DSI Kelas A sebagai bagian dari persiapan akademik menghadapi tahapan ujian komprehensif sekaligus mempersiapkan mahasiswa menuju tahapan penyusunan dan ujian disertasi. Sosialisasi diisi oleh Ketua Program Studi S3 DSI, Dr. Basuki, M.Ag., dan Dr. Wildan Nafií selaku Sekretaris Program Studi S3 DSI. Jalannya kegiatan dipandu oleh Dr. M. Muchlish Huda sebagai moderator.

Dalam paparannya, Dr. Basuki, M.Ag. menjelaskan bahwa ujian komprehensif merupakan salah satu tahapan penting dalam perjalanan akademik mahasiswa doktoral. Ujian tersebut tidak sekadar menguji kemampuan mahasiswa dalam mengingat dan menjelaskan berbagai teori, tetapi lebih jauh mengukur kemampuan mahasiswa dalam menguasai, mendiskusikan, mengkritisi, dan mengembangkan teori secara akademik sesuai dengan bidang kajian yang ditekuni. Dr. Wildan Nafií menyampaikan tahapan yang harus dilalui untuk mendaftar ujian komprehensif serta apa saja syarat-syarat pendaftaran ujian komprehensif.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam sosialisasi adalah bagaimana mahasiswa memulai tahapan ujian komprehensif. Mahasiswa diarahkan untuk mempersiapkan penguasaan teori secara sistematis dengan membangun pemahaman yang utuh mengenai konsep-konsep utama, perkembangan pemikiran, perdebatan akademik, serta posisi teori dalam disiplin ilmu yang menjadi bidang kajiannya.

Dr. Basuki juga menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam menyusun dan mendiskusikan teori, bukan sekadar mencantumkan teori dalam tulisan akademik. Teori harus ditempatkan sebagai perangkat analitis yang mampu membantu mahasiswa membaca persoalan penelitian secara lebih mendalam. Karena itu, mahasiswa perlu memahami asumsi dasar teori, konsep-konsep kunci, ruang lingkup penggunaannya, sekaligus kritik dan keterbatasan yang melekat pada teori tersebut. Selain penguasaan teori, mahasiswa juga diarahkan untuk memiliki kemampuan dalam melakukan literature review secara kuat dan kritis. Kajian literatur tidak berhenti pada kegiatan merangkum hasil penelitian terdahulu, tetapi harus mampu memetakan perkembangan diskursus, menemukan perdebatan akademik, mengidentifikasi kesenjangan penelitian, serta menunjukkan posisi penelitian yang akan dikembangkan.

Dalam konteks tersebut, kemapanan teoritis dan kedalaman analisis menjadi bekal utama mahasiswa untuk menghadapi ujian komprehensif. Mahasiswa doktoral dituntut tidak hanya mengetahui berbagai teori, tetapi mampu menjelaskan hubungan antarteori, membandingkan perspektif yang berbeda, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing teori, serta menentukan relevansinya terhadap persoalan penelitian yang dikaji. Lebih jauh, mahasiswa didorong untuk membangun tulisan akademik yang memiliki landasan epistemologis dan argumentasi teoritis yang mapan. Landasan epistemologis menjadi penting karena penelitian doktoral tidak hanya mempertanyakan apa yang diketahui, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut dibangun, dibenarkan, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan demikian, argumentasi teoritis yang dibangun mahasiswa diharapkan memiliki pijakan konseptual yang jelas dan mampu dipertanggungjawabkan secara akademik.

Pembekalan tersebut sekaligus menjadi upaya Program Studi S3 DSI untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tahapan akademik berikutnya. Ujian komprehensif diharapkan menjadi ruang untuk menguji sejauh mana mahasiswa telah memiliki kematangan intelektual, penguasaan literatur, kemapanan teoritis, ketajaman analisis, dan kemampuan argumentasi ilmiah sebagai seorang calon doktor. Dalam proses menuju ujian disertasi, mahasiswa juga diharapkan mampu bergerak dari sekadar menjadi pembaca teori menuju posisi sebagai pengkaji dan pengembang pengetahuan. Kemampuan tersebut menjadi penting karena disertasi doktoral menuntut kontribusi akademik yang lebih kuat, baik dalam bentuk pengembangan konsep, kritik terhadap teori yang telah ada, maupun temuan yang mampu memperkaya khazanah keilmuan Studi Islam.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dalam suasana akademik yang interaktif. Mahasiswa mendapatkan gambaran mengenai tahapan yang perlu dipersiapkan sekaligus arah pengembangan kemampuan akademik yang harus dibangun sejak tahap ujian komprehensif. Pendampingan dari jajaran pengelola program studi juga menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai proses akademik yang akan ditempuh. Melalui kegiatan tersebut, Program Studi S3 DSI Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menegaskan komitmennya untuk mempersiapkan mahasiswa doktoral agar tidak hanya siap secara administratif menghadapi ujian komprehensif, tetapi juga matang secara intelektual, kokoh secara teoritis, mendalam dalam analisis, serta kuat dalam membangun argumentasi ilmiah.

Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjalani ujian komprehensif secara lebih matang dan menjadikan tahapan tersebut sebagai fondasi penting menuju penyusunan, pengembangan, dan ujian disertasi sebagai karya ilmiah doktoral yang memiliki kontribusi bagi pengembangan Studi Islam.

Berita Terbaru