Ponorogo, 24 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti pertemuan ketiga Mata Kuliah Metodologi Penelitian bersama Dr. Sugiyar, M.Pd.I. Perkuliahan diarahkan pada praktik membangun alur logika penelitian dari fenomena awal hingga epistemologi dengan membedah rancangan penelitian mahasiswa. Melalui proses tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari tahapan penelitian secara konseptual, tetapi langsung mengujinya pada rencana penelitian doktoral masing-masing.
MEMBEDAH RANCANGAN PENELITIAN MAHASISWA
Perkuliahan berlangsung dalam suasana kritis dan reflektif melalui presentasi serta pembahasan rancangan penelitian mahasiswa. Salah satu rancangan yang dipresentasikan oleh Eksa Miyasah Pamilu menjadi bahan untuk menguji bagaimana alur penelitian dibangun berdasarkan kerangka Michael Crotty.
Diskusi menemukan persoalan penting pada tahap awal penelitian, yaitu munculnya klaim atau kesimpulan ketika peneliti seharusnya masih berada pada tahap membaca realitas. Temuan tersebut menjadi bahan diskusi mengenai pentingnya memberikan ruang bagi fenomena untuk terlebih dahulu “berbicara”, tanpa tergesa-gesa memasukkan teori, asumsi, pembenaran, ataupun kesimpulan.
Dalam tahap awal, peneliti diarahkan untuk mengamati fenomena secara terbuka, mengeksplorasi situasi, serta menemukan ketegangan yang benar-benar muncul dari realitas. Dengan demikian, teori tidak ditempelkan sejak awal untuk membenarkan asumsi peneliti.
TEORI “DILEPASKAN” TERLEBIH DAHULU
Salah satu penekanan dalam perkuliahan adalah perlunya meninjau kembali fenomena dan permasalahan yang menjadi dasar penyusunan latar belakang penelitian. Mahasiswa diarahkan untuk memahami fenomena secara kritis dan menemukan persoalan atau kesenjangan terlebih dahulu sebelum menentukan teori yang relevan.
Dalam proses ini, teori sengaja “dilepaskan” terlebih dahulu agar penelitian tidak dimulai dengan mencari fenomena yang sekadar cocok dengan teori yang telah dipilih. Langkah tersebut membantu mahasiswa membangun latar belakang penelitian berdasarkan persoalan yang benar-benar ditemukan, bukan berdasarkan asumsi yang sudah ditentukan sebelumnya.
Dengan cara tersebut, teori nantinya hadir untuk membantu membaca dan menjelaskan persoalan yang telah dibangun secara akademik, bukan sekadar menjadi bagian yang ditempelkan pada fenomena.
TIGA LAPIS ALUR LOGIKA PENELITIAN
Perkuliahan kembali memperkuat kerangka tiga lapis analisis yang terdiri atas delapan tahapan logika penelitian. Namun, pada pertemuan ini kerangka tersebut tidak hanya dijelaskan, tetapi dipraktikkan langsung pada rancangan penelitian mahasiswa.
Alurnya adalah:
Fenomena Awal → Eksplorasi Fenomena → Ketegangan/Kejanggalan (Puzzle Condition) → Problematisasi → Academic Problem → Object of Inquiry → Pertanyaan Epistemologis → Epistemologi
Tiga tahap pertama berada pada Lapis I: Membaca Realitas. Tahap keempat sampai keenam membentuk Lapis II: Membentuk Masalah Ilmiah. Sementara itu, tahap ketujuh dan kedelapan berada pada Lapis III: Menetapkan Cara Mengetahui.
Alur tersebut membantu mahasiswa melihat penelitian sebagai proses berpikir yang bergerak secara sistematis dari realitas menuju masalah ilmiah, kemudian menuju dasar epistemologis yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan.
LAPIS I: MEMBIARKAN FENOMENA “BERBICARA”
Pada Lapis I, penelitian dimulai dengan membaca fenomena awal. Peneliti perlu melihat realitas sebagaimana adanya sebelum memberikan penilaian atau memasukkan teori tertentu.
Tahap berikutnya adalah eksplorasi fenomena. Peneliti memperdalam pengamatan untuk memahami konteks, aktor, tindakan, dan dinamika yang terdapat di dalam fenomena. Dari proses eksplorasi tersebut kemudian dapat ditemukan ketegangan, kontradiksi, atau kejanggalan (puzzle condition).
Dalam diskusi ditegaskan bahwa membaca fenomena bukan sekadar mengumpulkan fakta. Peneliti perlu memiliki keterbukaan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan menangguhkan asumsi awal. Kesalahan konseptual dapat muncul ketika peneliti telah menyimpulkan sesuatu pada tahap yang semestinya masih digunakan untuk memahami realitas.
LAPIS II: MENGUBAH KEJANGGALAN MENJADI ACADEMIC PROBLEM
Setelah menemukan ketegangan atau kejanggalan, penelitian bergerak menuju problematisasi. Pada tahap ini peneliti mulai mempertanyakan mengapa fenomena tersebut penting untuk diteliti dan apa yang secara akademik belum diketahui.
Problematisasi kemudian mengarah pada perumusan academic problem. Persoalan penelitian tidak lagi sekadar berbentuk masalah praktis yang ditemukan di lapangan, tetapi telah dikonstruksi menjadi persoalan pengetahuan yang membutuhkan penelitian.
Setelah itu, mahasiswa menentukan object of inquiry atau objek yang secara spesifik hendak diketahui. Fokus penelitian dengan demikian tidak berhenti pada nama tema yang luas, tetapi diarahkan pada proses, praktik, mekanisme, relasi, atau aspek tertentu dari fenomena yang benar-benar menjadi objek penyelidikan.
BUKAN “KONSELING”, TETAPI BAGAIMANA KONSELING DIPRAKTIKKAN
Salah satu contoh yang digunakan dosen untuk memperjelas object of inquiry berkaitan dengan tema konseling. Penelitian tidak cukup hanya menyatakan bahwa objeknya adalah “konseling”. Fokus perlu diarahkan pada bagaimana konseling dilakukan oleh konselor, bagaimana konselor mempraktikkannya, atau proses apa yang berlangsung dalam praktik tersebut.
Contoh ini memperlihatkan perbedaan antara topik penelitian dan objek penyelidikan. Topik masih bersifat luas, sedangkan object of inquiry menunjukkan secara lebih tepat apa yang ingin diketahui peneliti dari fenomena tersebut.
Dengan demikian, mahasiswa doktoral diarahkan untuk tidak berhenti pada penentuan tema atau judul, tetapi menggali apa yang sebenarnya belum diketahui dari fenomena tersebut.
LAPIS III: DARI OBJEK PENYELIDIKAN MENUJU EPISTEMOLOGI
Setelah object of inquiry menjadi jelas, penelitian bergerak menuju pertanyaan epistemologis. Peneliti mulai mempertanyakan bagaimana pengetahuan mengenai objek tersebut dapat diperoleh dan atas dasar posisi pengetahuan apa realitas akan dipahami.
Tahap tersebut kemudian mengarah pada epistemologi sebagai posisi pengetahuan. Dalam kerangka Crotty, posisi epistemologis menjadi fondasi yang selanjutnya berkaitan dengan perspektif teoretis, metodologi, dan metode penelitian.
Dengan demikian, Crotty dipahami bukan sekadar sebagai daftar unsur penelitian, tetapi sebagai arsitektur logika penelitian yang membantu menjaga koherensi dari fenomena yang diamati hingga cara peneliti membangun pengetahuan mengenai fenomena tersebut.
MENGUJI ALUR PADA RENCANA DISERTASI MAHASISWA
Hal penting pada pertemuan ini adalah penerapan delapan tahapan tersebut secara langsung pada tema dan rancangan disertasi mahasiswa. Rancangan yang dipresentasikan dikoreksi dan didiskusikan untuk melihat apakah fenomenanya telah dibaca dengan tepat, apakah terdapat puzzle condition, bagaimana masalah akademiknya dibangun, apa object of inquiry-nya, serta apakah rancangan tersebut layak diteruskan sebagai penelitian doktoral.
Salah satu contoh yang dibahas berkaitan dengan pengembangan buku ajar Bahasa Arab. Pembacaan dimulai dari fenomena belum sesuainya buku ajar dengan kebutuhan siswa. Fenomena tersebut dieksplorasi melalui observasi, wawancara, dan analisis materi hingga mengarah pada persoalan akademik mengenai belum tersedianya bahan ajar yang teruji berdasarkan karakteristik peserta didik. Object of inquiry kemudian diarahkan pada pengembangan, kelayakan, dan efektivitas buku ajar.
Contoh lain memperlihatkan bagaimana delapan tahap digunakan untuk membaca persoalan kewarisan, mulai dari pluralitas norma, eksplorasi sistem kekerabatan, ketegangan antara pembagian formal dan kontrol substantif terhadap aset, hingga pembentukan academic problem, object of inquiry, kebaruan, dan posisi epistemologis.
Keragaman contoh tersebut memperlihatkan bahwa alur penelitian tidak dimaksudkan sebagai format yang diisi secara mekanis, tetapi sebagai alat untuk menguji logika sebuah rancangan penelitian.
PENELITIAN DOKTORAL HARUS MELAMPAUI LEVEL SARJANA DAN MAGISTER
Perkuliahan juga memberikan perhatian khusus terhadap level penelitian doktoral. Mahasiswa diingatkan bahwa penelitian pada jenjang doktor tidak semestinya berhenti pada bentuk penelitian yang sama dengan jenjang sarjana atau magister.
Penelitian doktoral diarahkan untuk memiliki kontribusi keilmuan yang lebih kuat, termasuk orientasi pada pengembangan atau penemuan konsep dan teori baru. Karena itu, kemampuan menemukan fenomena saja belum cukup. Peneliti perlu membangun masalah akademik yang signifikan, menetapkan objek penyelidikan secara tajam, dan menunjukkan kontribusi keilmuan yang akan dihasilkan.
Penekanan tersebut membuat delapan tahap alur penelitian memiliki fungsi penting: bukan hanya membantu mahasiswa menyusun penelitian secara sistematis, tetapi juga menguji apakah masalah dan kontribusi yang dirancang telah memadai untuk penelitian pada level doktoral.
DARI FENOMENA MENUJU KONTRIBUSI DOKTORAL
Pertemuan ketiga Mata Kuliah Metodologi Penelitian memperkuat pemahaman bahwa penelitian yang baik tidak dimulai dengan terburu-buru memilih teori atau metode. Penelitian dibangun melalui kemampuan membaca realitas secara terbuka, mengeksplorasi fenomena, menemukan ketegangan, melakukan problematisasi, membentuk academic problem, menetapkan object of inquiry, mengajukan pertanyaan epistemologis, dan menentukan posisi epistemologi.
Praktik membedah rancangan penelitian mahasiswa menjadikan kerangka tersebut lebih konkret. Setiap mahasiswa dapat melihat bahwa kelemahan pada tahap membaca fenomena akan berpengaruh terhadap masalah akademik, fokus penelitian, bahkan pilihan epistemologi dan metodologi pada tahap berikutnya.
Melalui Giat Akademik DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) #3, mahasiswa doktoral diarahkan untuk tidak sekadar menghasilkan penelitian yang logis dan sistematis, tetapi juga memiliki problem akademik yang kuat, objek penyelidikan yang jelas, pijakan epistemologis yang dapat dipertanggungjawabkan, serta kontribusi keilmuan yang sesuai dengan level penelitian doktoral.