Seminar Hasil Penelitian Disertasi Doktor Studi Islam PPs UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo #14: Ika Rusdiana Tawarkan Model Program Intervensi Islamic Digital Well-Being Berbasis Pemikiran Utsman Najati, Malik Badri, dan G. Hussein Rassool Bagi Mahasiswa PTKI di Kabupaten Ponorogo

Ponorogo, 30 Juni 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, berbagai persoalan psikologis yang dialami mahasiswa semakin kompleks. Fenomena kecanduan gawai, kelelahan digital (digital fatigue), menurunnya kualitas relasi sosial, gangguan kesehatan mental, hingga melemahnya dimensi spiritual menjadi tantangan baru yang tidak selalu mampu dijawab secara memadai melalui pendekatan psikologi kontemporer. Berangkat dari realitas tersebut, Ika Rusdiana, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Konsentrasi Psikologi Islam Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, menawarkan sebuah model intervensi psikologi Islam yang memadukan keseimbangan fisik, psikis, sosial, emosional, dan spiritual dalam menghadapi kehidupan digital.

Gagasan tersebut dipresentasikan dalam Ujian Seminar Hasil Penelitian Disertasi yang diselenggarakan pada Selasa, 30 Juni 2026, melalui disertasi berjudul “Pengembangan Model Program Intervensi Islamic Digital Well-Being Berbasis Pemikiran Utsman Najati, Malik Badri, dan G. Hussein Rassool bagi Mahasiswa PTKI di Kabupaten Ponorogo.”

Disertasi ini berangkat dari kegelisahan akademik bahwa pendekatan psikologi modern yang berkembang saat ini belum sepenuhnya mampu menjawab krisis psikologis sekaligus krisis sosio-spiritual yang dihadapi mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Menurut Ika Rusdiana, kehidupan digital tidak hanya memengaruhi aspek kesehatan mental, tetapi juga berdampak pada kualitas spiritualitas, relasi sosial, serta keseimbangan kepribadian mahasiswa.

Melalui penelitian Research and Development (R&D), Ika berupaya mengembangkan sebuah model Islamic Digital Well-Being (IDWB) yang dapat diimplementasikan sebagai program intervensi bagi mahasiswa. Model tersebut disusun berdasarkan sintesis pemikiran tiga tokoh psikologi Islam, yaitu Utsman Najati, Malik Badri, dan G. Hussein Rassool.

Menurut peneliti, ketiga tokoh tersebut memiliki titik temu pada tiga prinsip utama, yakni keseimbangan kepribadian, tafakkur sebagai proses kontemplasi Islami, serta tazkiyah al-nafs sebagai proses penyucian jiwa. Ketiga konsep tersebut kemudian dikonstruksi menjadi dasar pengembangan model intervensi yang diharapkan mampu memperkuat ketahanan psikologis sekaligus spiritual mahasiswa dalam menghadapi kehidupan digital.

Penelitian ini diawali dengan pertanyaan mendasar mengenai bagaimana profil digital life dan Islamic Digital Well-Being mahasiswa PTKI di Kabupaten Ponorogo, ditinjau dari dimensi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian dilaksanakan pada tiga Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Ponorogo, yaitu UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, INSURI Ponorogo, dan IAIRM Ngabar Ponorogo.

Seminar hasil penelitian dipimpin oleh Prof. Dr. Evi Muafiah, M.Ag (Rektor UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo) selaku Ketua Sidang. Bertindak sebagai Penguji Utama, Prof. Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Ag. Hadir pula Dr. Elfi Yuliani Rochmah, M.Ag sebagai Penguji II, serta Dr. Edi Irawan, M.Pd (Wakil Rektor I UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo) sebagai Penguji III.

Forum seminar berlangsung dinamis dengan berbagai diskusi yang berfokus pada penguatan model intervensi, argumentasi metodologis, serta perluasan kontribusi ilmiah penelitian.

Dalam arahannya, Prof. Dr. Evi Muafiah, M.Ag memberikan perhatian khusus terhadap model Islamic Digital Well-Being (IDWB) yang menjadi luaran utama penelitian. Menurutnya, sebagai penelitian pengembangan, disertasi ini harus mampu memperlihatkan secara jelas konstruksi model yang ditawarkan, mulai dari landasan konseptual, komponen penyusun, mekanisme implementasi, hingga keunggulannya dibandingkan pendekatan-pendekatan yang telah ada. Dengan demikian, novelty penelitian tidak hanya terletak pada tema yang diangkat, tetapi juga pada model intervensi yang benar-benar dapat diterapkan.

Masukan metodologis disampaikan oleh Dr. Edi Irawan, M.Pd. Ia menekankan pentingnya memberikan argumentasi ilmiah yang kuat mengenai alasan pemilihan pendekatan psikologi Islam sebagai dasar penyusunan model intervensi. Menurutnya, peneliti perlu menjelaskan secara lebih eksplisit mengapa pendekatan yang bertumpu pada pemikiran Utsman Najati, Malik Badri, dan G. Hussein Rassool dipilih dibandingkan model-model intervensi dalam psikologi konvensional kontemporer yang selama ini lebih mapan dan established.

Selain itu, Dr. Edi juga menyoroti konsistensi metodologi penelitian, khususnya mengenai penggunaan tahapan Research and Development model Borg & Gall. Ia menemukan adanya inkonsistensi dalam naskah disertasi tersebut, karena pada beberapa bagian disebutkan menggunakan sembilan tahapan, sementara pada bagian lain tetap merujuk pada sepuluh tahapan. Menurutnya, konsistensi metodologis merupakan aspek yang sangat penting dalam penelitian pengembangan.

Dr. Edi juga memberikan perspektif mengenai perluasan lokus penelitian. Menurutnya, agar kontribusi dan novelty penelitian menjadi lebih luas, model Islamic Digital Well-Being sebaiknya tidak hanya diarahkan bagi mahasiswa PTKI, tetapi dapat dikembangkan sebagai model intervensi yang relevan bagi mahasiswa di Kabupaten Ponorogo secara umum. Ia juga menambahkan Bahwa sangat mengkin sekali nanti ketika ujian Terbuka atau open defense menghadirkan  G. Hussein Rassool karena pemikir sekaligus psikolog asal Pakistan ini masih hidup sampai hari ini. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengkonfirmasi apakeh model yang akan dikembangkan sesuai dengan apa yang digagas oleh Hussein Rassool.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Dr. Elfi Yuliani Rochmah, M.Ag. Ia menilai bahwa model intervensi yang dikembangkan memiliki potensi untuk dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat yang lebih luas, sehingga strategi diseminasi hasil penelitian perlu dirancang tidak hanya untuk lingkungan PTKI, tetapi juga kepada berbagai institusi pendidikan dan kelompok masyarakat yang menghadapi persoalan serupa akibat kehidupan digital.

Dr. Elfi juga memberikan catatan penting mengenai uji klinis terhadap model intervensi yang dikembangkan. Menurutnya, sebelum model tersebut diimplementasikan secara lebih luas, diperlukan pengujian yang memadai agar efektivitas program benar-benar dapat dibuktikan secara ilmiah, baik dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis maupun dalam memperkuat dimensi spiritual peserta program.

Sementara itu, Prof. Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Ag memberikan perhatian pada aspek argumentasi penelitian. Ia menilai bahwa peneliti perlu memperkuat alasan akademik mengenai pemilihan mahasiswa PTKI sebagai objek penelitian. Menurutnya, perlu dijelaskan secara lebih mendalam apakah karakteristik mahasiswa PTKI memang memiliki persoalan digital yang berbeda dibandingkan mahasiswa pada umumnya, atau justru model yang dikembangkan memiliki relevansi yang lebih luas bagi seluruh mahasiswa.

Diskusi yang berkembang dalam seminar menunjukkan bahwa isu Islamic Digital Well-Being merupakan tema yang sangat aktual dalam pengembangan Psikologi Islam. Para penguji sepakat bahwa penelitian ini memiliki potensi memberikan kontribusi penting, terutama dalam menghadirkan pendekatan intervensi yang mengintegrasikan aspek psikologis, sosial, emosional, dan spiritual di tengah tantangan kehidupan digital.

Pelaksanaan seminar hasil penelitian ini kembali memperlihatkan komitmen Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam mengembangkan riset-riset multidisipliner yang responsif terhadap dinamika masyarakat kontemporer. Melalui konsentrasi Psikologi Islam, DSI Pascasarjana terus mendorong lahirnya penelitian yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga menghasilkan model-model intervensi yang aplikatif dalam menjawab berbagai persoalan nyata di masyarakat.

Dengan berbagai masukan yang diperoleh dalam seminar hasil ini, model Islamic Digital Well-Being (IDWB) yang dikembangkan Ika Rusdiana diharapkan dapat menjadi salah satu kontribusi penting bagi pengembangan Psikologi Islam Indonesia, sekaligus menjadi alternatif pendekatan dalam membangun keseimbangan fisik, psikologis, sosial, emosional, dan spiritual generasi muda di era digital.

Redaksi Humas DSI Pasca

Berita Terbaru