Ponorogo, 1 September 2026 — Perkuliahan perdana Mata Kuliah Metodologi Penelitian Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-B dilaksanakan bersama Dr. Basuki, M.Ag., pada Selasa, 1 September 2026. Perkuliahan difokuskan pada pemahaman metodologi penelitian doktoral yang selaras dengan tuntutan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level 9.

Pada awal perkuliahan, Dr. Basuki menjelaskan perbedaan mendasar antara tuntutan lulusan Program Magister KKNI Level 8 dan Program Doktor KKNI Level 9. Pada jenjang doktor, mahasiswa dituntut mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni baru melalui riset hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji. Selain itu, lulusan doktor dituntut mampu memecahkan persoalan keilmuan melalui pendekatan inter, multi, dan transdisipliner, serta mampu mengelola dan mengembangkan riset yang bermanfaat bagi masyarakat dan memperoleh pengakuan nasional maupun internasional.
Kerangka tersebut menjadi dasar penting dalam menentukan pendekatan dan jenis penelitian disertasi. Pemilihan metodologi penelitian pada jenjang doktor tidak cukup hanya didasarkan pada kesesuaian teknis dengan objek penelitian, tetapi juga perlu mempertimbangkan kapasitas desain penelitian dalam menghasilkan kebaruan, pengembangan konsep, model, teori, rekonstruksi teoretis, maupun kontribusi ilmiah yang signifikan bagi pengembangan Studi Islam.
Dalam pendekatan kualitatif untuk Program Doktor KKNI Level 9 ada beberapa desain penelitian yang dibahas antara lain etnografi dan grounded theory. Etnografi dinilai relevan dengan KKNI Level 9 karena memungkinkan peneliti melakukan eksplorasi secara mendalam terhadap budaya, sistem makna, pola interaksi, dan konstruksi sosial dalam setting alamiah. Penelitian doktoral dengan desain etnografi diharapkan tidak berhenti pada deskripsi budaya, tetapi mampu menghasilkan pemaknaan yang mendalam, menemukan pola, serta membuka peluang bagi rekonstruksi teoretis berdasarkan temuan lapangan.
Sementara itu grounded theory memiliki kekuatan dalam menghasilkan konstruksi atau teori baru yang dibangun berdasarkan data empiris secara sistematis dan iteratif. Melalui proses analisis yang mendalam, penelitian grounded theory pada jenjang doktor diharapkan mampu menghasilkan kontribusi konseptual, model teoretis baru, atau rekonstruksi teori yang mempunyai kebaruan ilmiah.
Perkuliahan juga membahas beberapa desain penelitian kuantitatif untuk Program Doktor KKNI Level 9 , di antaranya Structural Equation Modeling (SEM) dan Hierarchical Linear Modeling (HLM). SEM memungkinkan mahasiswa menguji model teoretis yang kompleks secara simultan, termasuk hubungan langsung dan tidak langsung antarkonstruk. Pada jenjang doktor, penggunaannya diarahkan untuk menguji, mengkritisi, memodifikasi, atau mengembangkan model teoretis sehingga menghasilkan kebaruan serta kontribusi ilmiah.
Adapun HLM relevan untuk penelitian dengan struktur data bertingkat atau nested data, misalnya individu dalam kelas, kelas dalam pesantren, lembaga dalam organisasi, atau unit-unit dalam wilayah tertentu. Analisis tersebut memungkinkan peneliti menjelaskan pengaruh pada setiap level sekaligus hubungan lintas level sehingga dapat menghasilkan pemahaman teoretis yang lebih kompleks dalam Studi Islam.
Pada ranah mixed methods untuk Program Doktor KKNI Level 9, mahasiswa diperkenalkan dengan Convergent Parallel Mixed Methods dan Multistage Mixed Methods Design. Convergent Parallel mengintegrasikan data kuantitatif dan kualitatif untuk menghasilkan sintesis temuan yang lebih komprehensif dan multidimensional. Sementara itu, Multistage Mixed Methods mengembangkan penelitian melalui beberapa tahap yang saling terhubung dengan mengintegrasikan metode kuantitatif dan kualitatif pada setiap tahapan. Desain ini berpeluang menghasilkan pemahaman yang komprehensif, mengembangkan atau menguji model, serta menghasilkan kebaruan dan kontribusi ilmiah melalui sintesis antartahap.
Selain penelitian lapangan, perkuliahan turut membahas penelitian library untuk Program Doktor KKNI Level 9 berbasis kajian teoretis, yaitu Critical Theoretical Reconstruction dan Meta-Synthesis. Critical Theoretical Reconstruction diarahkan pada kemampuan merekonstruksi, mengkritisi, dan mengembangkan teori secara mendalam untuk menghasilkan novelty konseptual, perspektif baru, atau pengembangan paradigma keilmuan. Sementara itu, Meta-Synthesis menggunakan sintesis lintas studi untuk membangun generalisasi konseptual, model teoretis, serta pengembangan teori tingkat lanjut secara integratif dan sistematis.
Desain penelitian pengembangan untuk Program Doktor KKNI Level 9juga mendapat perhatian melalui pembahasan Design-Based Research (DBR) dan Design and Development Research (DDR). DBR memungkinkan penelitian doktoral menghasilkan inovasi berbasis desain sekaligus menghasilkan prinsip desain, model konseptual, dan kontribusi teoretis yang memiliki kebaruan akademik. Sementara itu, DDR dapat digunakan untuk menghasilkan model dan desain inovatif melalui proses validasi empiris, refleksi konseptual, serta pengembangan kerangka keilmuan secara mendalam.
Melalui pembahasan berbagai pendekatan tersebut, Dr. Basuki menekankan pentingnya keselarasan antara rumusan masalah, tujuan penelitian, jenis penelitian, proses analisis, dan luaran ilmiah yang hendak dihasilkan. Jenis penelitian tidak semata-mata dipilih karena dianggap lebih kompleks, tetapi harus mampu menjawab persoalan penelitian dan mendukung pencapaian kontribusi akademik yang sesuai dengan karakteristik pendidikan doktoral.
Perkuliahan perdana ini memberikan fondasi bagi mahasiswa DSI-B untuk mulai memetakan desain penelitian yang paling sesuai dengan rencana disertasi masing-masing. Mahasiswa didorong untuk tidak berhenti pada pertanyaan “metode apa yang digunakan?”, tetapi bergerak menuju pertanyaan yang lebih substantif: “kontribusi keilmuan baru apa yang akan dihasilkan melalui penelitian tersebut?”
Dengan demikian, Giat Akademik DSI-B #1 Mata Kuliah Metodologi Penelitian menjadi langkah awal untuk membangun paradigma penelitian doktoral yang berorientasi pada kedalaman analisis, ketepatan metodologis, kebaruan ilmiah, dan kontribusi terhadap pengembangan Studi Islam sesuai tuntutan KKNI Level 9.