Ponorogo, 1 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-A Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti perkuliahan perdana Mata Kuliah Isu-Isu Global dalam Studi Islam bersama Prof. Dr. H. Miftahul Huda, M.Ag. Pertemuan pembuka ini menjadi ruang akademik untuk memahami posisi Islam dan komunitas Muslim di tengah perubahan dan dinamika dunia modern.
Dalam perkuliahan, Prof. Dr. H. Miftahul Huda, M.Ag. mengarahkan mahasiswa agar tidak melihat isu-isu global sebagai kumpulan persoalan yang berdiri sendiri. Setiap isu perlu dianalisis melalui keterhubungan antara perkembangan masyarakat, perubahan struktur dunia, dinamika keagamaan, serta beragam cara umat Islam merespons perubahan zaman.
Pembahasan awal difokuskan pada Islam dalam konteks global. Globalisasi dipahami sebagai proses yang memperluas hubungan lintas negara, mempercepat arus informasi, mempertemukan berbagai kebudayaan, serta mengubah batas-batas ruang sosial. Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi umat Islam. Di satu sisi, globalisasi memungkinkan berkembangnya jejaring pengetahuan, kerja sama, solidaritas, dan komunikasi transnasional. Di sisi lain, globalisasi juga dapat melahirkan ketegangan identitas, ketimpangan, prasangka, serta kekhawatiran terhadap berkurangnya kekhasan budaya dan orientasi keagamaan.
Dalam konteks tersebut, sejumlah konsep penting seperti ummah, diaspora, pluralisme, dan multikulturalisme menjadi bagian dari perangkat analisis. Ummah tidak hanya dipahami sebagai komunitas yang disatukan oleh keyakinan, tetapi juga sebagai ruang sosial yang terus mengalami proses negosiasi dalam pengalaman kehidupan yang beragam.
Konsep diaspora digunakan untuk memahami bagaimana komunitas Muslim hidup, beradaptasi, dan membangun identitas di luar wilayah asalnya. Sementara itu, pluralisme dan multikulturalisme mengarahkan perhatian pada bagaimana perbedaan dapat dikelola secara adil, terbuka, dan bertanggung jawab. Dari pembahasan tersebut, mahasiswa diajak melihat bahwa identitas Muslim dapat bersifat dinamis tanpa harus kehilangan akar normatifnya.
Perkuliahan berlangsung dalam suasana kritis dan dialogis. Salah satu persoalan yang didiskusikan adalah bagaimana Islam dapat mempertahankan prinsip-prinsip normatif ketika berhadapan dengan keragaman nilai global. Mahasiswa juga diajak menguji pertanyaan mengenai apakah globalisasi selalu mengarah pada homogenisasi atau justru menyediakan ruang bagi berkembangnya artikulasi Islam yang semakin kontekstual.
Prof. Dr. H. Miftahul Huda, M.Ag. menekankan pentingnya membangun argumentasi akademik yang tidak berhenti pada pendapat pribadi. Pandangan yang disampaikan perlu diperkuat melalui pembacaan teks, teori, data, dan pengalaman sosial yang relevan. Orientasi tersebut menjadi bagian penting dari pembelajaran pada jenjang doktoral, ketika mahasiswa tidak hanya dituntut memahami materi, tetapi juga mampu mengidentifikasi persoalan, membandingkan perspektif, merumuskan pertanyaan penelitian, serta menyusun argumentasi secara logis.
Proses pembelajaran dilaksanakan melalui ceramah interaktif, diskusi kelas, analisis teks, dan penugasan mandiri. Strategi tersebut diarahkan untuk menghubungkan pengetahuan keislaman dengan berbagai realitas sosial kontemporer. Dengan demikian, Islam tidak ditempatkan sebagai objek kajian yang pasif, tetapi dipahami sebagai tradisi intelektual sekaligus kekuatan sosial yang terus berinteraksi dengan perkembangan dunia.
Salah satu gagasan penting dalam pertemuan pertama adalah bahwa Islam tidak berada di luar arus global. Islam dan komunitas Muslim turut membentuk dinamika global melalui gagasan, gerakan, lembaga, media, dan berbagai praktik kehidupan sehari-hari. Karena itu, pemahaman mengenai umat Islam perlu mempertimbangkan pengalaman diaspora, keragaman budaya, perubahan ruang publik, serta perkembangan teknologi komunikasi.
Perspektif tersebut selanjutnya menjadi pijakan untuk mengkaji berbagai isu strategis yang akan menjadi bagian dari perkuliahan, antara lain hak asasi manusia, demokrasi, radikalisme, lingkungan, ekonomi global, media, sains dan teknologi, konflik internasional, Islamofobia, dialog antaragama, era digital, kecerdasan buatan, filantropi, serta moderasi beragama di Indonesia.
Dalam aspek penugasan akademik, mahasiswa juga diperkenalkan pada penyusunan makalah berbasis model IMRaD. Karya Abdullah Saeed dan John L. Esposito digunakan sebagai referensi utama yang selanjutnya diperkaya dengan artikel jurnal dan berbagai dokumen akademik yang relevan.
Melalui Giat Akademik DSI-A #1, pertemuan perdana Mata Kuliah Isu-Isu Global menjadi fondasi bagi mahasiswa untuk membangun cara berpikir yang kritis, dialogis, dan reflektif dalam membaca hubungan Islam dengan perubahan dunia modern. Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kajian yang tidak hanya memahami fenomena global, tetapi juga menganalisisnya secara kontekstual dan argumentatif sebagai bagian dari pengembangan keilmuan Studi Islam pada jenjang doktoral.