Giat Akademik DSI-A #2: Kuliah Filsafat Ilmu Keislaman Bersama Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag. (07/09/2026)

Ponorogo, 7 September 2026 — Perkuliahan mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-A Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo kembali berlangsung dalam suasana akademik yang kritis dan dialogis. Pada pertemuan kedua Mata Kuliah Filsafat Ilmu Keislaman, sebanyak 13 mahasiswa doktoral mengikuti perkuliahan bersama Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag. dengan pembahasan utama mengenai cara berpikir epistemologis dalam menemukan dan membangun pengetahuan.

Perkuliahan dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026, pukul 15.30–17.30 WIB, bertempat di Ruang P4 Gedung Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Pertemuan ini menjadi bagian dari proses akademik mahasiswa doktoral untuk memperdalam filsafat ilmu keislaman, khususnya mengenai bagaimana suatu pengetahuan diperoleh, diuji, serta dapat dipertanggungjawabkan secara epistemologis. Dokumentasi pada halaman pertama juga memperlihatkan Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag. menyampaikan materi dengan pemetaan gagasan pada papan tulis sebagai bagian dari proses diskusi kelas.

Pembahasan mengenai cara berpikir epistemologis tidak berhenti pada penguasaan konsep tentang pengetahuan. Mahasiswa diarahkan untuk mempertanyakan bagaimana suatu pengetahuan terbentuk. Dalam tradisi akademik doktoral, pengetahuan tidak cukup diterima sebagai sesuatu yang sudah jadi. Dasar pengetahuan, metode yang digunakan untuk memperolehnya, serta kemungkinan keterbatasannya perlu diperiksa secara kritis.

Keraguan Metodologis dalam Menemukan Pengetahuan

Salah satu pokok penting yang berkembang dalam perkuliahan adalah keraguan metodologis dalam menemukan pengetahuan. Keraguan tidak semata-mata ditempatkan sebagai hambatan dalam memperoleh pengetahuan. Keraguan justru dapat menjadi bagian dari proses berpikir yang mendorong seseorang untuk memeriksa kembali dasar-dasar pengetahuan yang diyakininya.

Dari pembahasan tersebut muncul pertanyaan mengenai keraguan metodologis dan pengaruhnya terhadap hasil atau wacana. Pertanyaan ini membawa diskusi pada hubungan antara metode yang digunakan, hasil pengetahuan yang diperoleh, dan wacana yang kemudian terbentuk. Suatu hasil pengetahuan tidak sepenuhnya dapat dilepaskan dari cara atau metode yang digunakan untuk menemukannya.

Mahasiswa kemudian diarahkan untuk melihat keraguan metodologis sebagai instrumen reflektif. Melalui keraguan, seorang pemikir dapat menguji apakah metode yang digunakan benar-benar memadai untuk menghasilkan pengetahuan atau masih memiliki keterbatasan. Karena itu, proses menemukan pengetahuan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga menuntut perhatian terhadap proses yang mengantarkan seseorang sampai pada pengetahuan tersebut.

Persoalan tersebut menyentuh pertanyaan mendasar dalam epistemologi: bagaimana manusia dapat memastikan bahwa pengetahuan yang diperolehnya dapat dipertanggungjawabkan? Pertanyaan ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kesadaran epistemologis, termasuk mempertanyakan bagaimana sebuah teori, konsep, atau wacana memperoleh legitimasi sebagai pengetahuan.

Filsuf Dituntut Memiliki Kemampuan Epistemologis

Gagasan penting lainnya dalam perkuliahan adalah bahwa seorang filsuf dituntut memiliki kemampuan cara berpikir epistemologis dalam menemukan pengetahuan. Kemampuan tersebut berkaitan dengan kecakapan menyusun pertanyaan, memeriksa dasar pengetahuan, mempertimbangkan metode yang digunakan, serta melakukan refleksi terhadap hasil pemikiran.

Dengan demikian, aktivitas filsafat tidak hanya ditandai oleh kemampuan mengajukan pertanyaan kritis. Seorang pemikir juga perlu memahami bagaimana pengetahuan ditemukan dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan ini menjadi sangat penting bagi mahasiswa doktoral karena pendidikan pada jenjang S3 menuntut kedalaman berpikir sekaligus kemampuan menghasilkan gagasan yang memiliki dasar argumentatif.

Perkuliahan juga memperlihatkan bahwa epistemologi bukan sekadar pembahasan abstrak mengenai pengetahuan. Cara berpikir epistemologis dapat digunakan untuk membaca proses pembentukan berbagai wacana keilmuan. Ketika sebuah metode menghasilkan kesimpulan tertentu, mahasiswa perlu mampu melihat keterkaitan antara metode tersebut dengan hasil dan wacana yang terbentuk. Pengetahuan dengan demikian perlu dilihat tidak hanya dari apa yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana pengetahuan tersebut dibangun.

Memperkuat Nalar Akademik Mahasiswa Doktoral

Dinamika perkuliahan berlangsung dengan menempatkan mahasiswa sebagai bagian aktif dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi memperoleh ruang untuk bertanya, mempertanyakan persoalan, berdialog, dan membangun argumentasi akademik. Pola tersebut memperkuat karakter pembelajaran doktoral yang menekankan kemampuan berpikir kritis, dialogis, analitis, dan berbasis argumentasi ilmiah.

Kehadiran 13 mahasiswa dalam ruang perkuliahan juga membangun komunitas akademik yang memungkinkan terjadinya pertukaran perspektif. Perbedaan pandangan menjadi bagian dari proses memperkaya pemahaman selama setiap pandangan dibangun dan dipertanggungjawabkan melalui argumentasi akademik.

Melalui Mata Kuliah Filsafat Ilmu Keislaman, mahasiswa diarahkan untuk semakin kritis terhadap sumber pengetahuan, metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan, serta hasil dan wacana yang lahir dari proses tersebut. Keraguan metodologis menjadi salah satu pintu masuk untuk menguji kembali dasar pengetahuan dan membangun kebiasaan akademik yang reflektif.

Pertemuan kedua ini pada akhirnya menegaskan bahwa kemampuan berpikir epistemologis merupakan salah satu fondasi penting bagi mahasiswa doktoral dalam menjalankan aktivitas akademik dan penelitian. Seorang akademisi tidak hanya dituntut mampu memperoleh dan menghasilkan pengetahuan, tetapi juga harus mampu memahami, mempertanyakan, dan menguji proses yang digunakan untuk sampai pada pengetahuan tersebut.

Melalui Giat Akademik DSI-A #2, perkuliahan Filsafat Ilmu Keislaman bersama Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag. menjadi ruang untuk mengasah nalar kritis mahasiswa dalam memahami proses pembentukan pengetahuan. Diskusi tentang cara berpikir epistemologis, keraguan metodologis, serta hubungan antara metode, hasil, dan wacana diharapkan semakin memperkuat kemampuan mahasiswa dalam membangun argumentasi ilmiah dan mengembangkan tradisi keilmuan pada jenjang doktoral.

Berita Terbaru