Giat Akademik DSI-A #1: Kuliah Metodologi Studi Islam Bersama Prof. Dr. Luthfi Hadi Aminuddin, M.Ag. (07/09/2026)

Ponorogo, 7 September 2026 — Suasana akademik yang kritis, dialogis, dan analitis mewarnai perkuliahan perdana Mata Kuliah Metodologi Studi Islam mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-A Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Perkuliahan dilaksanakan pada Senin, 7 September 2026, di Ruang P4 Gedung Pascasarjana, pukul 15.30–17.30 WIB, bersama Prof. Dr. Luthfi Hadi Aminuddin, M.Ag., dan diikuti oleh 13 mahasiswa doktoral.

Pertemuan pertama membahas secara mendalam māddah atau objek kajian dalam Metodologi Studi Islam. Pembahasan tidak berhenti pada pengenalan konsep, tetapi berkembang pada persoalan mendasar mengenai apa yang menjadi objek dalam studi Islam serta bagaimana sumber dan khazanah keislaman ditempatkan dalam kajian akademik.

Salah satu pembahasan penting adalah kedudukan wahyu dan sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam. Diskusi berkembang ketika mahasiswa membahas bagaimana sumber-sumber tersebut dipahami dan bagaimana pemikiran keislaman kemudian berkembang melalui proses penafsiran dan pemahaman para tokoh Islam. Keragaman corak pemikiran tersebut membuka ruang diskusi mengenai hubungan antara sumber ajaran Islam dengan produk pemikiran yang lahir dalam perjalanan sejarah intelektual Islam.

Dalam diskusi tersebut, perhatian juga diarahkan pada turāṡ atau khazanah intelektual Islam. Salah satu gagasan penting yang mengemuka adalah perlunya menempatkan turāṡ sebagai objek kajian kritis dalam Studi Islam. Khazanah pemikiran yang diwariskan oleh para ulama dan pemikir Muslim tidak hanya dipelajari sebagai warisan intelektual, tetapi juga dapat dibaca, dianalisis, dan dikaji kembali dengan perangkat metodologis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Pembahasan mengenai turāṡ selanjutnya membawa mahasiswa pada persoalan corak pemikiran para tokoh Islam. Pemikiran seorang tokoh lahir melalui proses memahami dan menafsirkan sumber-sumber keislaman dalam konteks tertentu. Karena itu, mahasiswa doktoral perlu memiliki kemampuan untuk membaca pemikiran tokoh secara lebih analitis dengan memperhatikan sumber, metode, konteks, serta konstruksi pemikiran yang dihasilkannya.

Prof. Dr. Luthfi Hadi Aminuddin, M.Ag. mengarahkan jalannya diskusi dengan memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan, tanggapan, dan argumentasi. Perbedaan pandangan yang muncul dalam kelas dikembangkan menjadi bagian dari proses akademik untuk memperluas perspektif dalam memahami persoalan-persoalan metodologis dalam Studi Islam.

Perkuliahan juga menekankan pentingnya ketajaman metodologis bagi mahasiswa doktoral. Kajian terhadap teks keagamaan, sejarah pemikiran Islam, maupun khazanah intelektual Islam membutuhkan metode yang jelas. Dengan kemampuan metodologis tersebut, mahasiswa tidak hanya mengetahui isi suatu pemikiran, tetapi juga mampu menganalisis bagaimana pemikiran tersebut dibangun, konteks yang melatarbelakanginya, serta posisi pemikiran tersebut dalam perkembangan Studi Islam.

Keterlibatan aktif 13 mahasiswa menjadikan perkuliahan berlangsung dinamis. Keragaman latar belakang dan pengalaman akademik mahasiswa memperkaya sudut pandang dalam mendiskusikan wahyu, sunnah, turāṡ, serta corak pemikiran para tokoh Islam. Pertanyaan dan tanggapan yang muncul selama perkuliahan menunjukkan bahwa Metodologi Studi Islam menyediakan ruang yang luas untuk mempertemukan sumber normatif Islam dengan kajian akademik yang kritis.

Dalam konteks pendidikan doktoral, kemampuan tersebut menjadi penting karena mahasiswa tidak cukup hanya menguasai materi keislaman. Mahasiswa juga dituntut mampu menentukan objek kajian, menggunakan pendekatan yang tepat, membaca khazanah keislaman secara kritis, serta membangun argumentasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui Giat Akademik DSI-A #1, pertemuan perdana Mata Kuliah Metodologi Studi Islam bersama Prof. Dr. Luthfi Hadi Aminuddin, M.Ag. memberikan fondasi bagi mahasiswa untuk memahami Studi Islam sebagai ruang kajian yang luas dan dinamis. Pembahasan tentang māddah Metodologi Studi Islam, wahyu dan sunnah, turāṡ, serta corak pemikiran tokoh Islam diharapkan memperkuat kemampuan metodologis mahasiswa dalam mengembangkan kajian dan penelitian disertasi yang kritis, mendalam, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan Studi Islam.

Berita Terbaru