Ponorogo, 15 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-B Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti pertemuan ketiga Mata Kuliah Metodologi Penelitian bersama Dr. Basuki, M.Ag. Perkuliahan diawali dengan presentasi mahasiswa mengenai tugas “Menemukan Masalah Penelitian”, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang kegelisahan akademik sebagai tahapan penting setelah peneliti menemukan kesenjangan antara teori dan praktik.

DARI MENEMUKAN MASALAH MENUJU KEGELISAHAN AKADEMIK
Pada pertemuan sebelumnya, mahasiswa telah mempelajari bahwa masalah penelitian dapat berangkat dari kesenjangan antara teori dan praktik. Peneliti terlebih dahulu memahami konsep atau teori, kemudian melihat fakta atau kejadian empiris yang tidak sesuai dengan teori tersebut. Karena itu, peneliti dituntut memiliki penguasaan teori yang kuat agar mampu mengenali suatu kejadian sebagai masalah penelitian.
Pertemuan ketiga melanjutkan logika tersebut. Setelah peneliti menemukan kejadian atau praktik yang berlawanan dengan teori, penelitian tidak dapat langsung berhenti pada pernyataan bahwa “ada masalah.” Peneliti harus memiliki kegelisahan akademik, yaitu kesadaran ilmiah bahwa kesenjangan tersebut merupakan persoalan yang penting untuk diteliti, perlu diketahui penyebabnya dari perspektif teori, dan/atau perlu ditemukan solusinya.
Kegelisahan akademik dengan demikian menjadi penghubung antara penemuan masalah dan arah penelitian. Peneliti perlu mampu menjawab pertanyaan: Mengapa masalah tersebut penting diteliti? Apa akibatnya apabila masalah tersebut dibiarkan? Mengapa ilmu pengetahuan perlu memberikan penjelasan atau solusi terhadap masalah tersebut?
KEGELISAHAN AKADEMIK HARUS MEMILIKI DASAR ILMIAH
Kegelisahan akademik bukan sekadar kegelisahan pribadi peneliti. Pernyataan bahwa suatu masalah penting diteliti harus dibangun dengan argumentasi ilmiah dan dukungan penelitian terdahulu. Dokumen pembelajaran menempatkan kegelisahan akademik pada paragraf ketiga Latar Belakang Masalah. Mahasiswa terlebih dahulu menyatakan bahwa kejadian atau praktik yang telah ditemukan merupakan masalah penting untuk diteliti dan dicari solusinya. Selanjutnya, mahasiswa memberikan alasan-alasan ilmiah dengan merujuk pada jurnal internasional bereputasi.
Struktur tersebut memperlihatkan bahwa kegelisahan akademik tidak dibangun berdasarkan ungkapan seperti “masalah ini menarik” atau “masalah ini penting menurut peneliti.” Urgensi masalah harus dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Penelitian terdahulu digunakan untuk memperlihatkan konsekuensi masalah, keterbatasan pengetahuan yang tersedia, ataupun alasan ilmiah lain yang menjadikan persoalan tersebut layak diteliti.
LOGIKA DEDUKTIF: DARI TEORI MENUJU FAKTA
Dari pembahasan mengenai kegelisahan akademik, mahasiswa kemudian diarahkan untuk memahami logika penelitian. Ketika penelitian berangkat dari teori, kemudian teori tersebut digunakan untuk melihat dan membaca fakta empiris, peneliti bergerak melalui logika deduktif.
Dalam alur ini, teori menjadi titik awal untuk membaca realitas. Peneliti memiliki konsep, proposisi, atau kerangka teoretis tertentu, kemudian melihat apakah kondisi empiris sesuai atau tidak sesuai dengan teori tersebut. Apabila ditemukan kesenjangan, peneliti dapat melakukan pengujian atau penyelidikan lebih lanjut terhadap hubungan antara teori dan fakta.
Dokumen yang digunakan dalam perkuliahan juga memperlihatkan posisi teori pada awal penyusunan Latar Belakang Masalah. Paragraf pertama diarahkan untuk menarasikan konsep atau teori yang terkait dengan objek penelitian dengan dukungan lima buku primer, sedangkan paragraf kedua memuat kejadian atau praktik yang berlawanan dengan konsep atau teori tersebut berdasarkan berita dari media nasional dan/atau internasional.
Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan sebagai:
Teori → Fakta Empiris → Kesenjangan → Masalah → Kegelisahan Akademik → Penelitian
LOGIKA INDUKTIF: DARI FAKTA MENUJU KONSTRUKSI PENJELASAN
Selain logika deduktif, penelitian juga dapat bergerak melalui logika induktif. Dalam logika ini, peneliti memberikan perhatian besar pada fakta, praktik, pengalaman, atau fenomena empiris, kemudian melakukan penggalian secara mendalam untuk menemukan pola, kategori, makna, konsep, atau penjelasan terhadap fenomena tersebut.
Pada penelitian kualitatif, kegelisahan akademik dapat mendorong peneliti untuk mencari mengapa suatu masalah terjadi, bagaimana masalah tersebut berlangsung, dan bagaimana aktor dalam suatu situasi sosial memahami atau menyelesaikannya. Peneliti kemudian masuk ke dalam situasi sosial tertentu untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Dokumen perkuliahan mengarahkan mahasiswa untuk melakukan dialog empirik dengan mencari social situation yang dapat menjadi model dalam menyelesaikan masalah. Social situation tersebut mencakup Actor, Action, dan Place, kemudian peneliti menentukan fokus yang mengandung novelty dan mendialogkannya dengan penelitian terdahulu dari jurnal internasional bereputasi.
LOGIKA GABUNGAN DAN MIXED METHODS
Dalam perkembangan berikutnya, suatu masalah penelitian juga dapat menuntut penggunaan logika deduktif dan induktif secara bersama-sama. Peneliti mungkin membutuhkan pengujian terhadap pola atau hubungan tertentu sekaligus memerlukan eksplorasi yang mendalam untuk memahami alasan, proses, konteks, atau makna di balik temuan empiris.
Dari kebutuhan tersebut dapat muncul penggunaan mixed methods, yaitu penelitian yang menggabungkan komponen kuantitatif dan kualitatif secara terencana. Pemilihan pendekatan tidak dilakukan semata-mata karena peneliti ingin menggunakan metode tertentu, melainkan harus berangkat dari karakter masalah dan kebutuhan untuk menjawab masalah penelitian.
Dengan demikian, logika penelitian dapat dipahami dalam tiga kemungkinan arah: deduktif ketika bergerak dari teori menuju pengujian empiris; induktif ketika bergerak dari fenomena empiris menuju pemaknaan atau konstruksi penjelasan; serta gabungan deduktif–induktif ketika masalah membutuhkan dua jenis logika tersebut secara terintegrasi.
DARI KEGELISAHAN AKADEMIK MENUJU “DIALOG EMPIRIK”
Setelah peneliti mampu menunjukkan bahwa suatu masalah penting diteliti, tahap berikutnya adalah mencari kemungkinan solusi empiris. Dalam format yang digunakan pada perkuliahan, mahasiswa diarahkan mencari dua social situation sebagai model untuk melihat bagaimana masalah yang ditemukan dapat diselesaikan dalam konteks nyata. Setiap social situation mencakup aktor, aktivitas/tindakan, dan tempat, kemudian fokus penelitian ditentukan dengan mempertimbangkan unsur kebaruan.
Penggunaan dua social situation sekaligus juga membawa mahasiswa pada pemahaman mengenai studi multisitus dan multikasus. Dokumen memberikan contoh bahwa objek dengan karakteristik yang sama pada dua lokasi dapat ditempatkan dalam studi multisitus, sedangkan objek dengan karakteristik yang berbeda dapat diarahkan pada studi multikasus.
Pada akhirnya, rangkaian tersebut mengarah pada janji penelitian. Setelah teori, fakta, kegelisahan akademik, dan situasi sosial berhasil dibangun secara sistematis, peneliti menyatakan secara eksplisit apa yang akan diteliti sesuai dengan judul proposal penelitian. Dokumen perkuliahan menempatkan bagian ini pada paragraf ketujuh sebagai penutup rangkaian Latar Belakang Masalah.
MEMBANGUN LOGIKA PENELITIAN DOKTORAL
Pertemuan ketiga Mata Kuliah Metodologi Penelitian DSI-B menegaskan bahwa perjalanan penelitian tidak berhenti pada menemukan masalah. Setelah menemukan kesenjangan antara teori dan praktik, peneliti harus membangun kegelisahan akademik untuk menunjukkan mengapa masalah tersebut penting diteliti, apa yang perlu dijelaskan, dan/atau solusi apa yang perlu ditemukan.
Alur tersebut selanjutnya membawa mahasiswa kepada pilihan logika penelitian—deduktif, induktif, atau gabungan deduktif–induktif—sesuai dengan karakter masalah yang diteliti. Dengan demikian, metode penelitian tidak semestinya dipilih terlebih dahulu lalu dicarikan masalah yang sesuai. Sebaliknya, masalahlah yang mengarahkan peneliti kepada pertanyaan penelitian, kebutuhan data, logika penelitian, dan akhirnya pendekatan serta metode yang tepat.
Melalui pembahasan ini, mahasiswa doktoral diarahkan untuk membangun penelitian secara runtut: menguasai teori → menemukan fakta yang berlawanan dengan teori → mengidentifikasi masalah → membangun kegelisahan akademik → mencari penyebab dan/atau solusi → melakukan dialog empiris → menentukan logika dan pendekatan penelitian → merumuskan fokus serta janji penelitian. Rangkaian tersebut menjadi dasar untuk menghasilkan penelitian doktoral yang tidak sekadar berangkat dari tema, tetapi dari masalah ilmiah yang nyata, memiliki urgensi akademik, dan diarahkan pada kontribusi keilmuan.