Ponorogo, 24 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti pertemuan ketiga Mata Kuliah Isu-Isu Global bersama Prof. Dr. H. Agus Purnomo, M.Ag. Perkuliahan berfokus pada pembahasan globalisasi, identitas keislaman, dan transformasi pendidikan Bahasa Arab di era digital, sekaligus melihat posisi strategis bahasa dalam pembentukan identitas umat Islam.
GLOBALISASI, IDENTITAS KEISLAMAN, DAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
Perkuliahan diawali dengan presentasi mahasiswa Novia Dwi Nurcahyaningtias bertema “Globalisasi, Identitas Keislaman, dan Transformasi Pendidikan Bahasa Arab: Tantangan dan Strategi Penguatan Kompetensi Umat Islam di Era Digital.” Presentasi menjadi titik awal diskusi mengenai perubahan kehidupan umat Islam akibat globalisasi dan perkembangan teknologi digital.
Globalisasi telah membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan umat Islam, mulai dari sosial, budaya, pendidikan, komunikasi, hingga produksi pengetahuan. Teknologi digital semakin memperkuat keterhubungan tersebut karena memungkinkan masyarakat mengakses sumber pengetahuan, berkomunikasi lintas negara, dan membangun jaringan keagamaan maupun intelektual yang bersifat transnasional.
Di tengah perubahan tersebut, identitas keislaman tidak berada dalam ruang yang statis. Pertemuan dengan beragam budaya, gagasan, media, dan jaringan global membuat proses pembentukan identitas umat Islam menjadi semakin kompleks.
BAHASA ARAB BUKAN SEKADAR ALAT KOMUNIKASI
Salah satu penekanan penting dalam pembahasan adalah posisi Bahasa Arab. Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga memiliki kedudukan strategis sebagai bahasa Al-Qur’an, hadis, dan khazanah intelektual Islam, sekaligus menjadi salah satu bahasa komunikasi dalam masyarakat global.
Dalam diskusi, Prof. Dr. H. Agus Purnomo, M.Ag. mendorong mahasiswa doktoral untuk membaca posisi bahasa sebagai bagian dari identitas umat Islam. Dengan perspektif tersebut, Bahasa Arab tidak cukup dipahami hanya melalui persoalan tata bahasa atau kemampuan berkomunikasi, tetapi juga perlu dibaca dalam hubungannya dengan konstruksi identitas, budaya, interaksi sosial, dan perubahan global.
Pembahasan ini memperluas posisi pendidikan Bahasa Arab dari sekadar pembelajaran bahasa menjadi bagian dari proses penguatan literasi keislaman, kapasitas intelektual, dan kemampuan umat Islam berinteraksi dalam masyarakat global.
MEMBACA IDENTITAS MELALUI PERSPEKTIF TEORETIS
Diskusi kemudian berkembang pada sejumlah perspektif teoretis yang dapat digunakan untuk membaca hubungan antara bahasa dan identitas. Tiga perspektif yang muncul dalam catatan perkuliahan adalah Social Identity Theory, Sociocultural Linguistic Theory of Identity, dan Poststructuralist Theory of Identity.
Melalui Social Identity Theory, identitas dapat dibaca dalam kaitannya dengan keanggotaan seseorang dalam kelompok sosial. Dalam konteks ini, penggunaan Bahasa Arab dapat dikaji sebagai salah satu unsur yang berkaitan dengan identifikasi seseorang terhadap komunitas Muslim.
Sementara itu, Sociocultural Linguistic Theory of Identity memberikan ruang untuk memahami bahwa identitas diproduksi dan dinegosiasikan melalui praktik bahasa dan interaksi sosial. Bahasa dengan demikian bukan hanya medium yang digunakan untuk menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi bagian dari praktik sosial yang turut membentuk bagaimana seseorang menampilkan dan memahami identitasnya.
Adapun perspektif Poststructuralist Theory of Identity membuka pemahaman bahwa identitas bersifat dinamis, berlapis, dan berkaitan dengan relasi kuasa. Perspektif ini memungkinkan mahasiswa melihat bahwa identitas keislaman di tengah globalisasi tidak selalu hadir dalam satu bentuk yang tetap, tetapi dapat mengalami negosiasi dan perubahan seiring konteks sosial yang dihadapi.
TRANSFORMASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB DI ERA DIGITAL
Perubahan global juga membawa konsekuensi terhadap orientasi pendidikan Bahasa Arab. Pembelajaran tidak lagi cukup jika hanya berorientasi pada penguasaan unsur kebahasaan atau tata bahasa.
Materi perkuliahan mengarahkan transformasi pendidikan Bahasa Arab menuju pembelajaran yang lebih komunikatif, kontekstual, digital, dan interkultural. Orientasi tersebut diperlukan agar pembelajaran Bahasa Arab mampu merespons perubahan cara masyarakat memperoleh pengetahuan, berkomunikasi, dan berinteraksi lintas budaya.
Dengan demikian, kemampuan berbahasa perlu ditempatkan dalam hubungan dengan kemampuan memahami konteks sosial dan budaya, menggunakan teknologi, membaca informasi secara kritis, serta berinteraksi dalam masyarakat yang semakin terkoneksi secara global.
LIMA KOMPETENSI INTEGRATIF
Dari pembahasan mengenai transformasi pendidikan Bahasa Arab, presentasi merumuskan lima dimensi kompetensi integratif, yaitu kompetensi linguistik, literasi keislaman, literasi digital, kompetensi interkultural, dan kompetensi global.
Kompetensi linguistik berkaitan dengan kemampuan menggunakan Bahasa Arab. Namun, kemampuan tersebut perlu berjalan bersama literasi keislaman, mengingat Bahasa Arab memiliki hubungan erat dengan Al-Qur’an, hadis, dan tradisi intelektual Islam.
Perkembangan teknologi kemudian membutuhkan literasi digital, yakni kemampuan memanfaatkan sekaligus membaca secara kritis sumber dan informasi yang tersedia melalui media digital. Sementara itu, kompetensi interkultural diperlukan agar pembelajar mampu berinteraksi dengan perbedaan budaya, dan kompetensi global membantu mereka memahami serta berpartisipasi dalam dinamika masyarakat dunia.
Kerangka lima kompetensi tersebut menempatkan pendidikan Bahasa Arab tidak hanya sebagai instrumen penguasaan bahasa, tetapi sebagai sarana untuk memperkuat literasi keislaman, kapasitas intelektual, kemampuan berinteraksi lintas budaya, dan kesiapan menghadapi masyarakat global.
AI DAN PERUBAHAN PRODUKSI PENGETAHUAN
Diskusi kelas juga menyentuh perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan pengaruhnya terhadap produksi pengetahuan. Mahasiswa mempertanyakan posisi AI dalam proses memperoleh, mengolah, dan menghasilkan informasi, termasuk kemungkinan terjadinya perubahan pada otoritas epistemik akibat semakin luasnya penggunaan teknologi generatif.
Pembahasan AI tidak hanya diarahkan pada manfaat teknologinya. Pemanfaatan AI dalam pendidikan dan kajian keislaman tetap membutuhkan verifikasi informasi dan sikap kritis. Kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berbanding lurus dengan validitas dan kualitas pengetahuan yang dihasilkan.
Karena itu, literasi digital dalam pendidikan Bahasa Arab juga perlu mencakup kemampuan menilai sumber, memeriksa informasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
GLOBALISASI DAN DINAMIKA IDENTITAS KEISLAMAN
Perkuliahan juga mengembangkan diskusi mengenai kemungkinan fragmentasi identitas akibat globalisasi. Arus informasi dan interaksi transnasional memungkinkan umat Islam bersentuhan dengan berbagai pemahaman, budaya, dan ekspresi keagamaan dalam waktu yang sangat cepat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa globalisasi memiliki dimensi yang kompleks. Di satu sisi, keterhubungan global memperluas akses umat Islam terhadap ilmu pengetahuan dan jaringan intelektual. Di sisi lain, perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan mengenai bagaimana identitas keislaman dibangun, dipertahankan, dan dinegosiasikan dalam ruang sosial dan digital yang semakin terbuka.
Bahasa menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami dinamika tersebut. Karena itu, pembahasan Bahasa Arab dapat diperluas dari persoalan pedagogis menuju persoalan identitas, budaya, globalisasi, dan produksi pengetahuan.
DARI PENGUASAAN BAHASA MENUJU KOMPETENSI GLOBAL
Pertemuan ketiga Mata Kuliah Isu-Isu Global menunjukkan bahwa transformasi pendidikan Bahasa Arab tidak dapat dilepaskan dari perubahan yang lebih luas dalam kehidupan umat Islam. Globalisasi, teknologi digital, identitas, bahasa, budaya, dan produksi pengetahuan saling berhubungan dalam membentuk tantangan baru bagi pendidikan Islam.
Melalui Giat Akademik DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) #3, mahasiswa doktoral diarahkan untuk melihat Bahasa Arab tidak hanya sebagai objek pembelajaran linguistik, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan kehidupan intelektual umat Islam. Transformasi pendidikan Bahasa Arab karenanya membutuhkan pergeseran dari orientasi linguistik semata menuju pengembangan kompetensi linguistik, literasi keislaman, literasi digital, kompetensi interkultural, dan kompetensi global secara integratif.
Perkuliahan bersama Prof. Dr. H. Agus Purnomo, M.Ag. pada akhirnya memperluas cara mahasiswa membaca isu global: perubahan teknologi dan globalisasi tidak hanya mengubah cara umat Islam berkomunikasi, tetapi juga turut memengaruhi bagaimana identitas dibentuk, bagaimana pengetahuan diproduksi, dan bagaimana pendidikan Islam perlu ditransformasikan untuk menghadapi masyarakat global yang terus berubah.