Ponorogo, 7 September 2026 — Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menyelenggarakan Asistensi dan Sosialisasi Tahapan Ujian Komprehensif bagi mahasiswa S3 DSI Kelas B. Kegiatan berlangsung pada Senin, 7 September 2026, bertempat di Ruang Sidang Lantai 3 Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 13 mahasiswa S3 DSI Kelas B dan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi salah satu tahapan akademik dalam perjalanan studi doktoral. Asistensi dan sosialisasi disampaikan oleh Dr. Basuki, M.Ag., selaku Ketua Program Studi Doktor Studi Islam dan dipandu oleh Dr. Muhammad Muchlish Huda.
Dalam paparannya, Dr. Basuki, M.Ag. menegaskan bahwa ujian komprehensif merupakan tahapan yang sangat penting dalam pendidikan doktoral. Ujian ini bukan sekadar formalitas akademik, melainkan momentum untuk mengukur kesiapan intelektual mahasiswa sebelum memasuki tahapan berikutnya dalam penyelesaian studi doktoral. Dr. Muhammad Muchlish Huda dalam kesempatan selanjutnya menyampaikan roadmap dan tahapan-tahapan dalam penyelesaian studi doktoral termasuk di dalamnya adalah ujian komprehensif.

“Ujian komprehensif adalah tahapan yang sangat penting bagi mahasiswa doktoral. Ujian komprehensif akan menentukan arah selanjutnya bagi mahasiswa dalam menyelesaikan studi doktoral,” tegas Dr. Basuki, M.Ag.
Menurutnya, mahasiswa perlu memandang ujian komprehensif sebagai ruang untuk menunjukkan kematangan keilmuan, penguasaan teori, keluasan literatur, kedalaman analisis, serta kemampuan membangun argumentasi akademik. Oleh karena itu, persiapan menghadapi ujian tidak cukup dilakukan dengan menghafalkan teori atau literatur, tetapi harus diarahkan pada kemampuan memahami, mendialogkan, mengkritisi, dan mengonstruksi argumentasi secara mandiri.
Asistensi tersebut juga memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai tahapan-tahapan yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi ujian komprehensif. Mahasiswa diarahkan untuk mulai membangun peta keilmuan yang jelas, menentukan posisi teoritis, memperkuat penguasaan literatur, serta mengembangkan kemampuan analitis yang sesuai dengan karakter pendidikan doktoral.
Kemapanan teoritis menjadi salah satu aspek penting yang ditekankan. Mahasiswa doktoral dituntut memiliki kemampuan untuk memahami teori tidak hanya pada tingkat definisi dan konsep, tetapi juga mampu menjelaskan genealogi pemikiran, asumsi epistemologis, perkembangan teori, perdebatan akademik, kritik terhadap teori, serta relevansinya terhadap persoalan yang dikaji.
Dengan demikian, ujian komprehensif diharapkan menjadi ruang untuk menguji sejauh mana mahasiswa telah mengalami transformasi dari sekadar pembaca pengetahuan menjadi pengkaji dan pengembang pengetahuan. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting sebelum mahasiswa memasuki fase penelitian dan penyelesaian disertasi.
Kelas DSI.B: Bertemunya Beragam Pengalaman dan Perspektif
Salah satu karakter menarik dari mahasiswa S3 DSI Kelas B adalah keragaman latar belakang profesional dan sosial-akademik para mahasiswanya. Kelas ini tidak hanya diisi oleh kalangan akademisi, tetapi juga terdapat praktisi, aktivis, politisi, serta mereka yang memiliki pengalaman dalam berbagai bidang kehidupan publik.

Keragaman tersebut menjadikan DSI.B sebagai kelas yang memiliki karakter tersendiri. Pengalaman mahasiswa yang berasal dari berbagai ruang kehidupan menghadirkan perspektif yang beragam dalam membaca persoalan keislaman. Dunia akademik bertemu dengan pengalaman praktis, aktivisme sosial, pengalaman politik, serta dinamika kelembagaan publik.
Di antara mahasiswa DSI.B terdapat Arwan Hamidi, yang sekarang menjabat sebagai komisioner KPU Ponorogo, Syamsul Watoni, seorang aktivis, serta Dwi Agus Prayitno, Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo. Kehadiran mahasiswa dengan latar belakang yang beragam tersebut memberikan warna tersendiri dalam proses pembelajaran doktoral.
Dalam perspektif pendidikan doktoral, keberagaman latar belakang tersebut dapat menjadi modal penting yang memperkaya proses pembelajaran. Pengalaman empiris yang dimiliki masing-masing mahasiswa dapat didialogkan dengan teori dan literatur akademik sehingga menghasilkan perspektif yang lebih kompleks dalam membaca realitas sosial-keagamaan.
Namun demikian, keberagaman pengalaman tersebut juga menuntut mahasiswa untuk mampu melakukan transformasi dari pengalaman praktis menuju refleksi akademik. Pengalaman lapangan perlu diolah melalui kerangka teoritis dan epistemologis agar tidak berhenti sebagai pengalaman personal, tetapi dapat menjadi sumber pertanyaan ilmiah dan kontribusi terhadap pengembangan pengetahuan.
Karena itu, persiapan ujian komprehensif menjadi momentum penting bagi mahasiswa DSI.B untuk mempertemukan pengalaman, teori, literatur, dan refleksi kritis dalam satu bangunan argumentasi akademik yang kokoh.
Menuju Kematangan Doktoral
Melalui kegiatan asistensi dan sosialisasi tersebut, mahasiswa DSI.B diharapkan memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai tuntutan ujian komprehensif sekaligus mampu mempersiapkan diri secara lebih sistematis.
Ujian komprehensif pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak teori yang dapat dikuasai mahasiswa, tetapi tentang seberapa dalam mahasiswa mampu berpikir secara teoritis, kritis, reflektif, dan argumentatif. Pada jenjang doktoral, kematangan intelektual menjadi fondasi utama untuk menghasilkan penelitian yang memiliki kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan komitmen Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam memberikan pendampingan akademik kepada mahasiswa pada setiap tahapan perjalanan doktoralnya.
Dengan bekal kemapanan teoritis, keluasan literatur, kedalaman analisis, serta pengalaman yang beragam, mahasiswa S3 DSI Kelas B dipersiapkan untuk menghadapi ujian komprehensif secara lebih matang. Lebih dari sekadar memenuhi tahapan akademik, ujian komprehensif diharapkan menjadi ruang pembuktian kematangan intelektual sekaligus jembatan menuju lahirnya karya disertasi yang kuat, kritis, dan memiliki kontribusi bagi Studi Islam.
Redaktur DSI Pasca