Ponorogo, 12 Juli 2026 – Transformasi pendidikan yang sedang digulirkan Kementerian Agama Republik Indonesia memasuki babak baru. Melalui paradigma Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta, Kementerian Agama mendorong lahirnya ekosistem pendidikan yang tidak lagi sekadar mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, kemanusiaan, spiritualitas, dan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Paradigma baru tersebut menempatkan guru bukan hanya sebagai penyampai materi pelajaran, melainkan sebagai fasilitator yang menghadirkan pengalaman belajar bermakna (meaningful learning), membangun hubungan pedagogis yang humanis, sekaligus menumbuhkan nilai kasih sayang, penghormatan terhadap keberagaman, dan tanggung jawab sosial dalam setiap proses pembelajaran.

Sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi kebijakan strategis tersebut, Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo bersama mahasiswa Program Doktor Studi Islam menyelenggarakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dalam bentuk Workshop Penyusunan Modul Ajar Pendekatan Pembelajaran Berbasis Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta di MA dan SMK Pondok Pesantren Al-Islam Joresan Ponorogo.
Workshop tersebut diikuti oleh 80 guru MA dan SMK Al-Islam Joresan Ponorogo sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas guru dalam menerjemahkan paradigma pembelajaran baru Kementerian Agama ke dalam perangkat pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual.

Direktur Pondok Pesantren Al-Islam Joresan Ponorogo, Drs. H. Usman Yudi, M.Pd.I, saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa perubahan paradigma pendidikan nasional harus disambut oleh seluruh lembaga pendidikan Islam dengan meningkatkan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih bermakna.
Menurutnya, tantangan pendidikan masa depan tidak lagi hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga kemampuan lembaga pendidikan membentuk peserta didik yang memiliki karakter, kepedulian sosial, kecerdasan spiritual, dan kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Workshop menghadirkan empat narasumber dari Program Studi Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, yaitu Dr. Basuki, M.Ag, Ketua Program Studi Doktor Studi Islam, Dr. Wildan Nafi’i, M.Pd.I, Sekretaris Program Studi Doktor Studi Islam, Dr. Muhammad Muchlish Huda, M.Pd.I, dosen UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, serta Mukhlas Habibi, M.Pd, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam.
Dalam pemaparannya, Dr. Basuki, M.Ag menjelaskan bahwa Deep Learning bukan sekadar penggunaan metode pembelajaran baru, melainkan perubahan paradigma pendidikan yang mengarahkan peserta didik untuk memahami pengetahuan secara mendalam, mampu menganalisis berbagai persoalan kehidupan, berpikir reflektif, sekaligus mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

Menurutnya, paradigma tersebut sejalan dengan arah kebijakan pendidikan Islam yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran yang aktif dalam membangun pengetahuan, bukan sekadar menerima informasi dari guru.
“Modul ajar yang disusun guru harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang mendalam (deep learning experience). Peserta didik tidak cukup hanya mengetahui, tetapi harus mampu memahami, merefleksikan, mengaitkan dengan kehidupan nyata, dan menghasilkan solusi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi,” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Wildan Nafi’i, M.Pd.I menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan penguatan dimensi etik dalam proses pendidikan. Menurutnya, pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari nilai rahmah, penghormatan terhadap martabat manusia, serta pembangunan relasi yang sehat antara guru dan peserta didik.
Ia menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis cinta bukanlah pendekatan yang sentimental, melainkan paradigma pendidikan yang menempatkan kasih sayang sebagai fondasi dalam membangun motivasi belajar, karakter, budaya dialog, dan iklim akademik yang inklusif.

“Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menghadirkan keteladanan, membangun empati, menghidupkan dialog, dan menciptakan ruang belajar yang membuat peserta didik merasa dihargai sebagai manusia,” ujarnya.
Pada sesi berikutnya, Dr. Muhammad Muchlish Huda, M.Pd.I memberikan pendampingan teknis mengenai penyusunan modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka. Ia membimbing peserta mulai dari analisis capaian pembelajaran, penyusunan tujuan pembelajaran, desain aktivitas belajar berbasis Deep Learning, hingga penyusunan asesmen yang tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga perkembangan karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan refleksi peserta didik.

Pendampingan praktik penyusunan modul ajar oleh guru didampingi oleh Mukhlas Habibi, M.Pd, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam. Melalui kerja kelompok dan konsultasi intensif, para guru menyusun modul ajar yang mengintegrasikan prinsip-prinsip Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta sesuai karakteristik mata pelajaran masing-masing.
Workshop berlangsung secara interaktif melalui diskusi, praktik penyusunan modul, presentasi hasil, dan pendampingan langsung dari para narasumber. Pendekatan ini memungkinkan para guru tidak hanya memahami kebijakan kurikulum secara konseptual, tetapi juga menghasilkan perangkat pembelajaran yang siap diimplementasikan di ruang kelas.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, di mana dosen dan mahasiswa Program Doktor Studi Islam bersama-sama melakukan diseminasi keilmuan sekaligus mendampingi satuan pendidikan dalam menerjemahkan kebijakan pendidikan nasional ke dalam praktik pembelajaran.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis dalam mendukung transformasi pendidikan Islam di Indonesia. Tidak hanya melalui pengembangan riset dan publikasi akademik, tetapi juga melalui pendampingan langsung kepada para guru agar mampu mengimplementasikan paradigma Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai arus utama pembelajaran di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi model sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam dalam mempercepat lahirnya ekosistem pembelajaran yang lebih mendalam, humanis, transformatif, dan berorientasi pada pembentukan generasi yang unggul secara intelektual, matang secara emosional, serta kokoh dalam nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Surat Permohonan Narsum Workshop Pondok Pesantren Al Islam Joresan
Laporan PKM di MA dan SMK Al ISLAM Joresan
Redaksi Humas DSI Pasca