Ponorogo, 31 Agustus 2026 — Mahasiswa Pascasarjana Kelas DSI Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengawali perkuliahan semester I dengan kajianFilsafat Ilmu Keislaman yang menekankan pentingnya cara berpikir kritis dan filosofisdalam memahami berbagai persoalan Islam. Perkuliahan yang berlangsung pada Senin (31/8/2026) pukul 15.30–17.30 WIB di Gedung Pascasarjana Ruang P4 tersebut diikuti oleh 13 mahasiswa dan diampu oleh Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag.
Pertemuan perdana ini diarahkan sebagai pengantar untuk membangun kerangka berpikirfilosofis mahasiswa dalam mengkaji tema-tema keislaman. Mahasiswa tidak hanyadiperkenalkan pada filsafat sebagai sebuah disiplin keilmuan, tetapi juga diajak memahamibagaimana cara berpikir filsafat dapat digunakan untuk membaca persoalan secara lebihmendalam, kritis, dan analitis.
Dalam konteks pendidikan Pascasarjana, kemampuan berpikir filosofis menjadi bagianpenting dalam proses pengembangan tradisi akademik. Mahasiswa tidak cukup hanyamemahami suatu konsep berdasarkan definisi atau pengetahuan yang telah tersedia, tetapijuga perlu mampu mempertanyakan asumsi yang melandasinya, menguji argumentasi, sertamelihat suatu persoalan dari berbagai perspektif.
Hal tersebut tampak dalam dinamika diskusi pada perkuliahan. Salah satu persoalan utamayang dibahas adalah kebenaran dalam filsafat. Persoalan mengenai kebenaran kemudianberkembang menjadi pertanyaan yang lebih kritis, khususnya mengenai hubungan antarakebenaran filosofis dan kebenaran yang didasarkan pada keyakinan.
Pertanyaan yang mengemuka dalam diskusi adalah: apakah kebenaran filsafat dapatmereduksi kebenaran atas dasar keyakinan? Pertanyaan tersebut membuka ruang dialog akademik yang mempertemukan cara berpikir filosofis dengan persoalan keyakinan. Mahasiswa diarahkan untuk tidak terburu-buru memberikan jawaban, tetapi terlebih dahulumemahami persoalan, membangun argumentasi, serta melihat kemungkinan adanyaperspektif yang berbeda.
Mengembangkan Tradisi Berpikir Kritis
Diskusi tentang kebenaran menjadi salah satu bagian penting dalam perkuliahan karenamenyentuh persoalan mendasar dalam filsafat ilmu. Kebenaran tidak semata-mata dipahamisebagai sesuatu yang langsung diterima, melainkan menjadi objek yang dapat dipertanyakandan dikaji secara mendalam.
Dalam proses tersebut, mahasiswa didorong untuk membangun argumentasi ilmiah. Perkuliahan berlangsung dengan karakteristik kritis, dialogis, dan analitis. Pola pembelajaransemacam ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengemukakan pertanyaan sekaligusmenguji cara berpikirnya sendiri.
Bagi mahasiswa Pascasarjana, diskusi semacam ini menjadi penting karena kajian akademikpada tingkat lanjut tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi. Mahasiswa dituntutuntuk memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi persoalan, menemukan asumsi yang mendasari suatu pemikiran, dan mengembangkan argumentasi yang dapatdipertanggungjawabkan secara akademik.
Melalui pembahasan filsafat, mahasiswa juga diajak untuk melihat bahwa sebuah persoalandapat memiliki dimensi yang lebih kompleks daripada apa yang tampak secara langsung. Cara pandang tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami hubungan antararealitas, pengetahuan, dan kebenaran.
Salah satu gagasan penting yang muncul dalam perkuliahan berkaitan dengan fenomena dan neumena. Pembahasan ini mengarahkan perhatian mahasiswa pada perbedaan antara sesuatuyang tampak dengan realitas yang berada di balik apa yang tampak tersebut.
Dalam konteks ini, muncul refleksi bahwa manusia sering kali menganggap kebenaran hanyaberdasarkan apa yang berada di permukaan. Padahal, dalam perspektif filsafat, sesuatu yang tampak dapat menjadi titik awal untuk mempertanyakan dan memahami realitas secara lebihmendalam.
Gagasan tersebut menjadi relevan dalam kajian ilmu keislaman. Berbagai persoalankeislaman tidak selalu cukup dipahami hanya dari sisi permukaan atau berdasarkanpemahaman yang bersifat langsung. Diperlukan proses berpikir yang memungkinkanseseorang melihat persoalan secara lebih komprehensif dan mempertanyakan berbagai asumsiyang menyertainya.
Filsafat sebagai Cara Membaca Persoalan Islam
Tema utama perkuliahan pada pertemuan ini bukan sekadar memperkenalkan filsafat sebagaimata kuliah, melainkan memperkenalkan cara berpikir filsafat dalam mengkaji tema-temaIslam. Karena itu, mahasiswa diarahkan untuk memahami bahwa filsafat dapat menjadi salah satu pendekatan dalam membaca persoalan secara reflektif dan kritis.
Cara berpikir filosofis memungkinkan mahasiswa mengajukan pertanyaan terhadap sesuatuyang selama ini dianggap telah selesai. Pertanyaan menjadi instrumen penting dalam proses pencarian pengetahuan. Dari pertanyaan tersebut kemudian lahir proses analisis, dialog, dan argumentasi yang memungkinkan suatu persoalan dipahami dari sudut pandang yang lebihluas.
Dinamika perkuliahan menunjukkan bahwa pembelajaran filsafat tidak berhenti pada penyampaian teori dari dosen kepada mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa ditempatkansebagai bagian aktif dalam proses akademik melalui pertanyaan dan diskusi. Dosen berperanmengarahkan pembahasan agar tetap berada dalam koridor akademik dan argumentasi ilmiah.
Model perkuliahan seperti ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajarbahwa perbedaan perspektif merupakan bagian dari tradisi akademik. Perbedaan pandangantidak semestinya dipahami sebagai pertentangan yang harus dihindari, tetapi dapat menjadisumber pengayaan pemikiran apabila dibangun melalui argumentasi yang rasional dan ilmiah.
Persoalan mengenai hubungan kebenaran filsafat dan kebenaran berdasarkan keyakinan, misalnya, dapat dilihat sebagai ruang dialog antara dua wilayah pemikiran yang memilikikarakteristik masing-masing. Pertanyaan kritis yang muncul justru menjadi pintu masukuntuk memahami persoalan secara lebih hati-hati dan mendalam.
Dengan demikian, perkuliahan Filsafat Ilmu Keislaman memberikan pengalaman akademikawal bagi mahasiswa semester I untuk membangun tradisi berpikir yang tidak hanya bersifatmenerima, tetapi juga mempertanyakan dan menganalisis. Mahasiswa diajak untukmemahami bahwa proses akademik membutuhkan keberanian intelektual dalam mengajukanpertanyaan sekaligus kedisiplinan dalam menyusun argumentasi.
Membangun Kesadaran atas Kedalaman Realitas
Pembahasan mengenai fenomena dan neumena juga memberikan pesan penting mengenaicara manusia memahami realitas. Apa yang tampak belum tentu menjadi keseluruhan darirealitas yang sebenarnya. Karena itu, proses memahami suatu persoalan membutuhkankemampuan untuk bergerak melampaui apa yang terlihat di permukaan.
Kesadaran tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam berpikir filosofis. Mahasiswatidak hanya dituntut untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga didorong untukmempertanyakan mengapa sesuatu terjadi, bagaimana sesuatu dapat diketahui, sertabagaimana sebuah klaim kebenaran dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam kajian ilmu keislaman, kemampuan semacam itu dapat menjadi bekal bagi mahasiswadalam menghadapi kompleksitas berbagai persoalan. Islam sebagai objek kajian memilikidimensi yang luas sehingga membutuhkan perangkat berpikir yang memungkinkanmahasiswa melakukan pembacaan secara mendalam dan reflektif.
Perkuliahan perdana ini pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikanmateri, tetapi juga menjadi ruang pembentukan nalar akademik mahasiswa Pascasarjana. Melalui dialog dan diskusi, mahasiswa mulai diperkenalkan pada karakter kajian filsafat yang kritis, analitis, dan argumentatif.
Pertemuan tersebut sekaligus memberikan fondasi awal bagi perjalanan perkuliahan FilsafatIlmu Keislaman pada semester I. Pembahasan mengenai cara berpikir filsafat, persoalankebenaran, serta fenomena dan neumena menjadi pintu masuk untuk mengembangkankemampuan mahasiswa dalam membaca berbagai tema keislaman secara lebih mendalam.
Dengan tradisi berpikir kritis tersebut, perkuliahan diharapkan menjadi ruang akademik yang tidak sekadar menghasilkan mahasiswa yang menguasai pengetahuan, tetapi juga mampumempertanyakan, menganalisis, dan membangun argumentasi ilmiah terhadap berbagaipersoalan keislaman. Inilah salah satu karakter penting pembelajaran pada jenjangPascasarjana yang tercermin dalam perkuliahan Filsafat Ilmu Keislaman tersebut.