Giat Akademik DSI-B #2: Kuliah Filsafat Ilmu Keislaman Bersama Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag. (07/09/2026)

Ponorogo, 7 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-B Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti pertemuan kedua Mata Kuliah Filsafat Ilmu Keislaman bersama Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag., pada Senin, 7 September 2026. Perkuliahan kali ini berfokus pada berpikir dasar dan epistemologi, terutama bagaimana membangun cara berpikir yang runtut dan sistematis serta memahami hubungan antara subjek, objek, dan proses dalam pembentukan pengetahuan.

Pada bagian awal, Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag. menekankan bahwa berpikir filosofis membutuhkan keruntutan. Sebuah pemikiran besar tidak dibangun dari gagasan-gagasan yang berdiri sendiri. Setiap konsep memiliki hubungan dengan konsep sebelumnya dan menjadi dasar bagi konsep berikutnya. Karena itu, memahami pemikiran filosofis membutuhkan proses membaca dan mengikuti argumentasi secara bertahap sejak fondasi awalnya.

Keruntutan tersebut juga berlaku dalam proses mengikuti perkuliahan. Ketika satu bagian penting terlewat, pemahaman terhadap materi berikutnya dapat mengalami keterputusan. Konsep yang dibahas pada tahap awal menjadi pijakan untuk memahami konsep berikutnya. Dengan demikian, belajar filsafat membutuhkan kesinambungan berpikir, karena suatu gagasan hanya dapat dipahami secara utuh ketika hubungan antargagasan dapat ditelusuri.

Tulisan Pemikir Besar: Kental, Konseptual, dan Runtut

Pembahasan kemudian diarahkan pada perbedaan antara tulisan pemikir besar dan tulisan biasa. Tulisan para pemikir besar memiliki karakter yang “kental”, kaya dengan konsep dasar, serta disusun melalui argumentasi yang runtut. Setiap bagian mempunyai fungsi dalam keseluruhan bangunan pemikiran sehingga pembaca perlu mengikuti tulisan sejak awal untuk memahami gagasan yang dikembangkan.

Karakter tersebut menyebabkan karya pemikir besar tidak mudah dipahami apabila dibaca secara acak atau langsung dimulai dari bagian tengah maupun akhir. Pembaca terlebih dahulu membutuhkan penguasaan konsep-konsep yang telah dibangun pada bagian sebelumnya. Tanpa fondasi tersebut, istilah, konsep, dan argumentasi pada bagian selanjutnya akan sulit ditempatkan dalam keseluruhan struktur pemikiran.

Sebaliknya, tulisan yang relatif sederhana atau “cetek” cenderung dapat dipahami meskipun pembaca memulainya dari bagian tengah atau akhir. Isi tulisan semacam itu sering kali tidak jauh berbeda dengan pengetahuan yang telah dimiliki pembaca. Dalam konteks ini, perkuliahan mengingatkan mahasiswa doktoral bahwa membaca karya yang seluruh isinya sudah berada dalam jangkauan pemahaman pembaca belum tentu banyak memperluas horizon keilmuan.

Untuk menjelaskan perbedaan tersebut, digunakan analogi antara ceramah umum dan sajian akademik seorang pemikir atau filsuf. Ceramah umum relatif mudah diikuti karena menggunakan pola dan kerangka berpikir yang telah familiar bagi masyarakat. Sementara itu, pemikiran akademik yang sangat terstruktur—dengan Hasan Hanafi sebagai salah satu contoh—dibangun melalui konsep-konsep yang saling berkaitan dan “mengunci”. Apabila penjelasan dasar terlewat, pembaca atau pendengar akan kesulitan mengikuti argumentasi selanjutnya.

Epistemologi: Subjek, Objek, dan Proses

Pembahasan mengenai keruntutan berpikir kemudian mengantarkan mahasiswa pada persoalan epistemologi. Dalam kerangka dasar epistemologi, terdapat tiga komponen yang saling berhubungan, yaitu subjek, objek, dan proses.

Subjek adalah diri atau individu yang berpikir, mengetahui, dan mengamati. Objek merupakan sesuatu di luar subjek yang sedang dipikirkan, diketahui, atau didekati. Sementara itu, proses merupakan cara atau alat yang digunakan oleh subjek untuk memahami objek. Proses tersebut dapat melibatkan akal, perspektif, persepsi, maupun “kacamata” tertentu yang digunakan dalam melihat objek.

Hubungan ketiga unsur tersebut memperlihatkan bahwa proses memperoleh pengetahuan tidak cukup dipahami hanya dari objek yang sedang dikaji. Mahasiswa juga perlu memperhatikan siapa yang mengetahui, apa yang diketahui, dan bagaimana proses mengetahui tersebut berlangsung. Dengan kerangka tersebut, epistemologi membantu mahasiswa memahami proses terbentuknya suatu pengetahuan.

Manusia sebagai Objek dalam Berbagai Perspektif Keilmuan

Salah satu contoh yang digunakan untuk menjelaskan hubungan subjek, objek, dan proses adalah manusia sebagai objek pengetahuan. Manusia dapat didefinisikan secara berbeda ketika dilihat melalui disiplin dan perspektif keilmuan yang berbeda. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa satu objek dapat menghasilkan penjelasan yang beragam sesuai dengan cara dan sudut pandang yang digunakan untuk memahaminya.

Dalam sains, manusia dapat dipahami melalui istilah Homo. Dalam ilmu sosial, manusia dipahami sebagai makhluk sosial, karena manusia tidak dapat menjalani kehidupan secara mandiri tanpa keterlibatan manusia lainnya. Hubungan, interaksi, dan ketergantungan sosial menjadi bagian penting dalam memahami keberadaan manusia.

Dari perspektif keagamaan, manusia dapat dipahami sebagai makhluk beragama. Perspektif tersebut menempatkan dimensi keberagamaan sebagai bagian penting dalam memahami manusia. Sementara itu, perkembangan pemikiran kontemporer juga memungkinkan manusia dipahami sebagai makhluk ekologis, yaitu makhluk yang keberadaannya memiliki keterkaitan erat dengan alam dan lingkungan.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa objeknya dapat tetap sama, tetapi cara memahami dan pengetahuan yang dihasilkan dapat berbeda karena perspektif yang digunakan berbeda. Karena itu, mahasiswa doktoral perlu memiliki kesadaran epistemologis ketika membaca teori, pemikiran, maupun hasil penelitian. Sebuah pengetahuan selalu perlu dilihat bersama cara yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut.

Berpikir dari Dasar sebagai Tradisi Akademik Doktoral

Perkuliahan ini sekaligus menegaskan pentingnya berpikir dari dasar bagi mahasiswa program doktor. Ketika membaca karya seorang pemikir, mahasiswa tidak cukup mengambil kesimpulan akhirnya. Mahasiswa perlu menelusuri konsep dasar, mengikuti tahapan argumentasi, memahami hubungan antarkonsep, serta menemukan kerangka epistemologis yang menopang keseluruhan pemikirannya.

Cara membaca semacam ini menjadi penting dalam kajian Filsafat Ilmu Keislaman. Pemikiran seorang tokoh tidak dapat dipahami hanya melalui potongan gagasan. Mahasiswa perlu memahami struktur pemikirannya secara utuh sehingga dapat menjelaskan bagaimana suatu gagasan dibangun dan mengapa pemikir tersebut sampai pada suatu kesimpulan tertentu.

Kerangka subjek–objek–proses juga memberikan fondasi bagi mahasiswa dalam mengembangkan penelitian doktoral. Peneliti perlu menyadari posisinya sebagai subjek, memperjelas objek yang dikaji, serta memahami cara atau perspektif yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan tentang objek tersebut. Kesadaran terhadap ketiga unsur tersebut membantu mahasiswa membangun argumentasi keilmuan yang lebih runtut dan dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui Giat Akademik DSI-B #2, perkuliahan Filsafat Ilmu Keislaman bersama Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag. memberikan penguatan mengenai pentingnya keruntutan berpikir, kedalaman membaca karya pemikir besar, serta pemahaman epistemologis terhadap hubungan subjek, objek, dan proses. Pembelajaran tersebut diharapkan membentuk kebiasaan mahasiswa doktoral untuk tidak berhenti pada hasil sebuah pemikiran, tetapi mampu menelusuri fondasi, proses, dan struktur argumentasi yang melahirkan pengetahuan.

Berita Terbaru