Giat Akademik DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) #1: Kuliah Isu-Isu Global Bersama Prof. Dr. H. Agus Purnomo, M.Ag. (3/09/2026)

Ponorogo, 3 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-C, penerima Beasiswa LPPD Tahun 2026, mengikuti pertemuan perdana Mata Kuliah Isu-Isu Global bersama Prof. Dr. H. Agus Purnomo, M.Ag. Perkuliahan berlangsung dalam suasana komunikatif, menyenangkan, dan penuh humor, dengan pembahasan yang menghubungkan berbagai persoalan global kontemporer dengan perspektif Islam serta latar belakang keilmuan mahasiswa.

Pertemuan pertama berlangsung dalam beberapa sesi. Sesi pertama diawali dengan kontrak belajar dan perkenalan mahasiswa. Setiap mahasiswa memperkenalkan nama, latar belakang akademik, pengalaman pendidikan, serta bidang kajian yang menjadi perhatian masing-masing. Keragaman latar belakang tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam mengembangkan diskusi kelas dan menentukan arah pembahasan isu global yang relevan dengan fokus keilmuan mahasiswa.

Pada sesi kedua, Prof. Dr. H. Agus Purnomo, M.Ag melakukan pemetaan latar belakang dan bidang keilmuan mahasiswa melalui pendekatan mind mapping. Pemetaan tersebut digunakan untuk menghubungkan materi Isu-Isu Global dengan konsentrasi dan rencana kajian mahasiswa. Pendekatan ini membuat pembahasan tidak berhenti pada pengenalan isu secara umum, tetapi berkembang sesuai dengan arah dan fokus penelitian masing-masing mahasiswa. Pemetaan bidang keilmuan tersebut juga diarahkan untuk mendukung penugasan mahasiswa dalam menyusun artikel sesuai dengan fokus kajiannya.

Memasuki sesi ketiga, mahasiswa memperoleh pengantar mengenai konsep dan ruang lingkup isu-isu global dalam kehidupan masyarakat kontemporer serta respons Islam terhadap berbagai persoalan tersebut. Pembahasan menegaskan bahwa isu global memiliki cakupan yang luas. Persoalan global tidak hanya berkaitan dengan politik dan ekonomi, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, lingkungan, kemanusiaan, ilmu pengetahuan, teknologi, kesehatan, perdamaian, serta hubungan antaragama.

Sejumlah isu strategis dipetakan dalam perkuliahan, antara lain gerakan ekologi dan kelestarian lingkungan, Hak Asasi Manusia (HAM) dan keadilan sosial, rekayasa buatan, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), moderasi beragama dan perdamaian global, harmoni lintas iman dan koeksistensi damai, dialog lintas agama, Sustainable Development Goals (SDGs), serta kajian interdisipliner bioetika. Keragaman isu tersebut menunjukkan luasnya ruang kajian yang dapat dikembangkan mahasiswa Program Doktor Studi Islam.

Dalam perspektif Islam, respons terhadap berbagai isu global dibahas dengan menempatkan Al-Qur’an dan Maqashid Syariah sebagai landasan. Pada isu lingkungan, konsep Khalifah dan Al-Mīzān digunakan untuk menjelaskan tanggung jawab manusia dalam menjaga alam dan keseimbangannya. Dalam diskusi kelas, nilai tersebut dikaitkan dengan bentuk aktual seperti Fatwa MUI dan gerakan Eco-Masjid, yang menunjukkan keterhubungan antara nilai keislaman dan persoalan ekologis kontemporer.

Pada isu HAM dan keadilan sosial, pembahasan dikaitkan dengan prinsip Karāmah Insāniyyah atau penghormatan terhadap martabat manusia. Nilai tersebut dapat diwujudkan dalam praktik sosial seperti ZISWAF serta advokasi terhadap pekerja migran. Dengan perspektif ini, persoalan HAM dan keadilan sosial ditempatkan sebagai bagian dari perhatian Studi Islam terhadap penghormatan martabat dan kehidupan manusia.

Pembahasan juga menyentuh perkembangan bioetika dan teknologi reproduksi. Prinsip Lā Ḍarar dijelaskan sebagai salah satu dasar dalam menentukan batas pemanfaatan perkembangan teknologi. Dalam ringkasan mahasiswa, pembahasan tersebut dicontohkan pada persoalan bayi tabung, surrogasi, dan kloning, sehingga mahasiswa dapat melihat bagaimana prinsip-prinsip Islam digunakan untuk merespons perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memunculkan persoalan etis baru.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi bagian dari diskusi isu global. Dalam perspektif Islam, mahasiswa mengaitkan persoalan tersebut dengan prinsip Hifz al-Aql dan Tabayyun, terutama dalam menghadapi potensi penyalahgunaan teknologi dan penyebaran hoaks. Dengan demikian, perkembangan AI tidak hanya dilihat sebagai kemajuan teknologi, tetapi juga sebagai isu yang membutuhkan pertimbangan etis dan keagamaan.

Pada dimensi kehidupan global yang lebih luas, pembahasan diarahkan pada moderasi beragama, perdamaian global, dialog lintas agama, harmoni lintas iman, dan koeksistensi damai. Nilai Rahmatan lil ‘Alamin dan Wasathiyah diposisikan sebagai landasan untuk mengembangkan toleransi, perdamaian, dan kehidupan harmonis di tengah keberagaman. Dialog lintas agama dan koeksistensi damai menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana Studi Islam dapat berkontribusi terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian global.

Diskusi kelas juga mengangkat berbagai fenomena aktual sebagai bahan untuk melatih kepekaan mahasiswa terhadap persoalan publik. Salah satu contoh yang muncul adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam diskusi, program tersebut digunakan sebagai contoh untuk melihat sebuah kebijakan dari berbagai perspektif, termasuk aspek bisnis, kepastian pasar, keuntungan, tata kelola, serta kemungkinan munculnya celah penyimpangan atau korupsi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Contoh tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah isu aktual dapat dibaca secara kritis dan dikembangkan menjadi objek kajian akademik.

Menariknya, materi tidak disampaikan secara satu arah. Prof. Agus Purnomo menghubungkan isu-isu tersebut dengan latar belakang akademik, konsentrasi keilmuan, serta fokus penelitian mahasiswa. Cara penyampaian yang ringan, komunikatif, dan humoris membuat diskusi berkembang secara hidup. Mahasiswa dapat melihat bahwa satu persoalan global dapat dibaca melalui beragam perspektif keilmuan dan kemudian dikembangkan sesuai dengan bidang kajian masing-masing.

Perkuliahan perdana ini sekaligus memberikan pemahaman mengenai pentingnya Mata Kuliah Isu-Isu Global bagi mahasiswa program doktor. Wawasan mengenai berbagai persoalan dunia kontemporer diperlukan agar penelitian doktoral memiliki cakrawala keilmuan yang luas, kepekaan terhadap perkembangan masyarakat, serta kemampuan menghubungkan persoalan global dengan perspektif Islam dan bidang keilmuan yang ditekuni.

Melalui pertemuan pertama ini, mahasiswa DSI-C Beasiswa LPPD 2026 memperoleh landasan awal untuk membaca isu global secara lebih luas dan multidimensional. Pemetaan latar belakang keilmuan mahasiswa, pembahasan berbagai isu kontemporer, perspektif Al-Qur’an dan Maqashid Syariah, serta pengaitan materi dengan fokus penelitian diharapkan menjadi pijakan bagi mahasiswa dalam mengembangkan artikel dan kajian doktoral yang relevan, kritis, interdisipliner, kontributif, dan responsif terhadap dinamika global kontemporer.

Berita Terbaru