Giat Akademik DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) #2: Kuliah Filsafat Ilmu Keislaman Bersama Prof. Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Fil.I. (09/09/2026)

Ponorogo, 9 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti pertemuan kedua Mata Kuliah Filsafat Ilmu Keislaman bersama Prof. Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Fil.I., pada Rabu, 9 September 2026. Perkuliahan kali ini berlangsung melalui presentasi, diskusi, dan pembahasan tugas artikel mahasiswa yang telah diberikan pada pertemuan sebelumnya.

Pertemuan kedua dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mengintegrasikan pendalaman substansi Filsafat Ilmu Keislaman dengan penguatan keterampilan penulisan akademik. Mahasiswa yang memperoleh giliran berdasarkan hasil undian mempresentasikan artikel sesuai tema yang telah ditentukan dan dikumpulkan. Presentasi dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab, sementara dosen memberikan penguatan, klarifikasi, serta tanggapan terhadap materi yang dipaparkan mahasiswa.

MEMBEDAH SUBSTANSI DAN TEKNIK PENULISAN ARTIKEL

Salah satu karakter penting perkuliahan pada pertemuan kedua adalah metode pembelajaran melalui pembedahan esai atau artikel mahasiswa. Prof. Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Fil.I. membedah tulisan melalui dua sisi utama. Pertama, substansi tulisan yang berkaitan dengan tema-tema Filsafat Ilmu Keislaman. Kedua, teknik penulisan ilmiah, terutama penggunaan referensi, sumber, kutipan, dan ketepatan penyajian tulisan.

Dalam aspek substansi, pembahasan antara lain diarahkan pada hubungan akal dan wahyu, sumber pengetahuan dalam Filsafat Ilmu Islam, serta integrasi Filsafat Ilmu Keislaman. Akal dan wahyu tidak ditempatkan sebagai dua sumber yang saling bertentangan. Akal digunakan manusia untuk memahami dan menganalisis, sementara wahyu menjadi sumber transendental yang memberikan petunjuk bagi pengalaman manusia.

Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa sumber pengetahuan dalam Islam tidak menempatkan satu sumber secara mutlak dengan meniadakan sumber lainnya. Akal dan wahyu didialogkan dalam proses pembentukan pengetahuan. Demikian pula, integrasi Filsafat Ilmu Keislaman tidak dimaknai sebagai pencampuran seluruh disiplin ilmu menjadi satu, tetapi sebagai upaya membangun hubungan dialogis di antara berbagai bidang pengetahuan.

Salah satu tulisan mahasiswa yang dipresentasikan mengangkat tema “Filsafat Ilmu Keislaman: Integrasi Wahyu, Akal, dan Realitas dalam Konstruksi Pengetahuan.” Pembahasannya mencakup hakikat Filsafat Ilmu Keislaman, epistemologi Islam, hubungan wahyu, akal, dan pengalaman empiris, serta kritik terhadap dikotomi ilmu agama dan ilmu umum. Diskusi juga mengangkat paradigma integrasi-interkoneksi yang memungkinkan berbagai disiplin ilmu berdialog tanpa kehilangan karakteristik masing-masing.

Dimensi aksiologis ilmu turut menjadi perhatian. Pengetahuan tidak hanya dituntut benar secara metodologis, tetapi juga harus memiliki manfaat dan tanggung jawab moral. Dari pembahasan tersebut, Filsafat Ilmu Keislaman dipahami sebagai bidang yang perlu dikembangkan secara kritis, integratif, rasional, empiris, dan spiritual dengan tetap berorientasi pada etika serta kemaslahatan manusia.

BAYANI, IRFANI, DAN BURHANI DALAM KONSTRUKSI PENGETAHUAN

Diskusi mahasiswa juga membahas Filsafat Ilmu Islam melalui dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi, termasuk tiga metode yang mengemuka dalam presentasi, yaitu Bayani, Irfani, dan Burhani. Ketiganya memperlihatkan keragaman jalan dalam memperoleh dan membangun pengetahuan dalam tradisi keilmuan Islam.

Bayani berorientasi pada otoritas teks suci atau wahyu sebagai panduan kebenaran dan hukum. Irfani berkaitan dengan intuisi dan kesucian hati (kasyf) untuk menangkap realitas spiritual yang tidak terjangkau oleh indra. Sementara itu, Burhani bertumpu pada logika rasional dan pembuktian empiris dalam memahami realitas. Integrasi ketiganya mengarahkan ilmu agar tidak dipahami sebagai sesuatu yang bebas nilai, tetapi tetap memiliki hubungan dengan tauhid, dimensi spiritual, dan tujuan kehidupan manusia.

Pembahasan tersebut semakin memperkaya diskusi mengenai sumber pengetahuan dalam Filsafat Ilmu Keislaman. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami konsep secara teoretis, tetapi juga melihat bagaimana berbagai sumber dan cara memperoleh pengetahuan dapat berhubungan dalam membangun konstruksi keilmuan Islam.

AKURASI DATA, REFERENSI, DAN SITASI

Selain substansi keilmuan, Prof. Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Fil.I. memberikan perhatian besar terhadap kualitas penulisan artikel ilmiah mahasiswa. Setiap tulisan ditelaah dengan memperhatikan akurasi data, ketepatan sumber dan kutipan, penggunaan ejaan yang benar, serta kemampuan mempertanggungjawabkan informasi yang digunakan. Struktur penulisan artikel ilmiah, termasuk pola IMRaD, juga menjadi bagian yang mendapat perhatian dalam pembahasan.

Validasi referensi menjadi salah satu pesan penting dalam perkuliahan. Setiap sumber harus jelas, kredibel, ditulis secara lengkap, serta benar-benar sesuai dengan gagasan yang dirujuk. Mahasiswa juga diarahkan untuk memperkuat sintesis pemikiran dari beberapa tokoh sehingga artikel tidak berhenti pada pemaparan pendapat. Tulisan perlu menunjukkan analisis yang lebih komprehensif, memperjelas research gap, dan didukung oleh penelitian terdahulu yang relevan.

Perhatian terhadap referensi juga berkaitan dengan kemampuan mahasiswa memahami konteks suatu pemikiran. Mahasiswa diarahkan agar tidak sekadar menerima informasi dari sumber yang ditemukan, tetapi mampu mengecek konteks pembahasan, membandingkan sumber, menilai kredibilitas referensi, serta memastikan kesesuaian antara kutipan dengan sumber aslinya. Langkah tersebut menjadi bagian dari latihan berpikir kritis yang sangat penting dalam Filsafat Ilmu.

Prof. Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Fil.I. juga memberikan perhatian terhadap penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam proses penulisan. Mahasiswa diingatkan untuk lebih teliti ketika menggunakan AI karena terdapat kemungkinan munculnya halusinasi AI, termasuk informasi atau referensi yang tidak akurat. Karena itu, informasi yang diperoleh dengan bantuan teknologi tetap perlu diperiksa dan divalidasi melalui sumber akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.

DARI PRESENTASI MENUJU TRADISI AKADEMIK DOKTORAL

Proses presentasi tidak hanya menjadi kegiatan menyampaikan kembali isi artikel. Mahasiswa didorong untuk memberikan tanggapan, mengajukan pertanyaan, menghubungkan pembahasan dengan persoalan keilmuan Islam yang lebih luas, serta mempertanggungjawabkan argumentasi yang disampaikan. Dengan pola tersebut, kelas berkembang menjadi ruang dialog akademik yang aktif dan interaktif.

Pembelajaran melalui pembedahan tulisan juga memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai bagaimana sebuah artikel ilmiah dibangun. Mulai dari penyusunan kerangka berpikir, pengembangan gagasan, penggunaan bahasa yang sistematis dan akademis, ketepatan referensi, hingga kekuatan argumentasi, seluruhnya menjadi bagian yang perlu diperhatikan untuk menghasilkan karya ilmiah berkualitas.

Bagi mahasiswa doktoral, pembelajaran tersebut memiliki posisi strategis. Kemampuan memahami filsafat ilmu perlu berjalan bersama kemampuan mengembangkan argumentasi dan menulis secara akademik. Ketelitian dalam memilih sumber, melakukan sitasi, menyusun sintesis, menemukan research gap, serta mempertanggungjawabkan setiap informasi menjadi bagian dari budaya akademik yang diperlukan dalam penyusunan artikel maupun penelitian disertasi.

Melalui Giat Akademik DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) #2, perkuliahan Filsafat Ilmu Keislaman bersama Prof. Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Fil.I. mempertemukan pendalaman substansi keilmuan dengan praktik langsung penulisan akademik. Pembahasan mengenai wahyu, akal, realitas, Bayani, Irfani, Burhani, integrasi keilmuan, serta aksiologi ilmu berjalan beriringan dengan penguatan akurasi data, validitas referensi, sitasi, struktur artikel, dan ketajaman analisis.

Pertemuan kedua ini sekaligus menegaskan bahwa kualitas karya ilmiah tidak hanya ditentukan oleh menariknya sebuah tema. Ketepatan sumber, kekuatan argumentasi, kedalaman sintesis, kejelasan posisi akademik, dan kemampuan mempertanggungjawabkan setiap informasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi keilmuan doktoral. Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kajian Filsafat Ilmu Keislaman secara kritis, integratif, dan bertanggung jawab sekaligus menghasilkan karya akademik yang semakin berkualitas.

Berita Terbaru