Ponorogo, 17 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti pertemuan kedua Mata Kuliah Isu-Isu Global bersama Prof. Dr. H. Agus Purnomo, M.Ag., Kamis, 17 September 2026. Perkuliahan membahas beragam persoalan global dan dampaknya bagi kehidupan manusia, khususnya umat Islam, sekaligus mengarahkan mahasiswa untuk melihat bagaimana Studi Islam berdialog dengan perubahan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, media, teknologi, dan lingkungan pada tingkat global.
MEMBACA ISLAM DALAM DINAMIKA ISU GLOBAL
Pembahasan pada pertemuan kedua memperlihatkan luasnya ruang kajian isu global dalam Studi Islam. Materi mencakup pendidikan berwawasan global, Islam dan Hak Asasi Manusia (HAM), radikalisme, ekonomi global, media, Islamofobia dan politik identitas, dialog antaragama, Artificial Intelligence (AI), filantropi, moderasi beragama, kemaslahatan, Sustainable Development Goals (SDGs), serta ekologi.
Keragaman tema tersebut menunjukkan bahwa persoalan umat Islam kontemporer tidak berdiri sendiri. Perubahan yang terjadi pada tingkat global turut memengaruhi cara masyarakat Muslim menjalani kehidupan beragama, membangun pendidikan, menggunakan teknologi, mengembangkan ekonomi, berinteraksi dengan kelompok lain, dan merespons persoalan lingkungan.
Dalam konteks tersebut, pendidikan berwawasan global menjadi salah satu tema penting. Pendidikan dituntut mampu memahami sekaligus merespons perubahan dan tantangan yang berkembang dalam masyarakat global. Perspektif global diperlukan agar pendidikan tidak hanya berorientasi pada persoalan lokal, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perubahan yang terjadi di dunia.
ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA
Salah satu pembahasan diarahkan pada hubungan Islam dan Hak Asasi Manusia. Dalam materi perkuliahan disebutkan lima prinsip yang dikaitkan dengan pemikiran Khaled Abou El Fadl, yaitu kejujuran, kesungguhan, komprehensivitas, rasionalitas, dan pengendalian diri. Kelima prinsip tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai bagaimana persoalan HAM dapat ditempatkan dalam kajian Islam.
Pembahasan ini memperlihatkan bahwa isu HAM menjadi salah satu ruang penting dalam Studi Islam kontemporer. Mahasiswa diarahkan untuk melihat persoalan kemanusiaan melalui kajian yang tidak hanya berangkat dari wacana keagamaan, tetapi juga memperhatikan perkembangan masyarakat global.
RADIKALISME DAN PERAN KONSELING PENDIDIKAN
Isu berikutnya adalah Islam dan radikalisme. Dalam konteks ini, perkuliahan menyoroti pentingnya peran pendidikan, khususnya layanan konseling, sebagai salah satu upaya untuk mencegah dan menangkal berkembangnya paham radikal di lingkungan pendidikan.
Persoalan radikalisme dengan demikian tidak hanya dapat dilihat sebagai persoalan ideologis atau keagamaan. Lingkungan pendidikan juga menjadi ruang strategis untuk membangun kemampuan peserta didik dalam menghadapi berbagai gagasan dan pengaruh yang berkembang di tengah perubahan global.
ISLAM DALAM DINAMIKA EKONOMI GLOBAL
Perkuliahan juga membahas Islam dan ekonomi global, khususnya kontribusi ekonomi Islam dalam perkembangan perekonomian dunia. Materi mengaitkan ekonomi Islam dengan prinsip keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan dalam aktivitas ekonomi.
Tema ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk melihat ekonomi Islam tidak hanya dalam lingkup praktik ekonomi masyarakat Muslim, tetapi juga dalam hubungannya dengan struktur dan dinamika perekonomian global.
MEDIA GLOBAL DAN PENDIDIKAN PESANTREN
Perkembangan media turut menjadi perhatian dalam perkuliahan. Media global memiliki pengaruh besar terhadap dunia pendidikan, termasuk pendidikan pesantren. Media dapat menjadi sarana penyebaran informasi dan pengetahuan keislaman, tetapi pada saat yang sama menghadirkan berbagai tantangan yang membutuhkan sikap kritis.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa pesantren dan lembaga pendidikan Islam tidak berada di luar arus perubahan global. Perkembangan media turut memengaruhi akses informasi, pembentukan pengetahuan, serta cara masyarakat berinteraksi dengan berbagai wacana keagamaan.
ISLAMOFOBIA DAN POLITIK IDENTITAS
Tema lain yang mendapat perhatian adalah Islamofobia dan politik identitas. Islamofobia dibahas dalam kaitannya dengan prasangka, stereotip, diskriminasi, serta bagaimana identitas keislaman hadir dan diperdebatkan dalam ruang publik. File perkuliahan memberikan contoh jilbab sebagai isu yang dapat berhubungan dengan perdebatan mengenai agama, ruang publik, sekularisme, dan identitas.
Catatan mahasiswa juga menyebut kaligrafi sebagai salah satu bentuk ekspresi identitas Islam. Hal ini memperlihatkan bahwa politik identitas tidak hanya berkaitan dengan kebijakan atau kekuasaan politik, tetapi juga dengan simbol, ekspresi budaya, dan cara identitas Muslim tampil dalam kehidupan sosial.
DIALOG ANTARAGAMA DALAM MASYARAKAT GLOBAL
Di tengah masyarakat global yang memiliki keragaman agama dan keyakinan, dialog antaragama dibahas sebagai salah satu ruang untuk membangun toleransi dan saling memahami. Dialog menjadi penting karena interaksi masyarakat global semakin intensif dan mempertemukan berbagai latar belakang keagamaan dalam ruang sosial yang sama.
Pembahasan ini menempatkan toleransi bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai bagian dari praktik kehidupan masyarakat yang plural. Ruang dialog diperlukan agar keberagaman dapat dikelola melalui komunikasi dan pemahaman antarkelompok.
ISLAM, ARTIFICIAL INTELLIGENCE, DAN ETIKA AKADEMIK
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu isu kontemporer yang secara khusus masuk dalam materi perkuliahan. Pembahasan diarahkan pada dua aspek, yaitu pemanfaatan AI dalam kajian Islam dan tantangan etika akademik dalam penggunaannya.
AI dapat dimanfaatkan dalam aktivitas kajian Islam, termasuk membantu pencarian informasi dan pengembangan penelitian. Namun, penggunaannya perlu disertai perhatian terhadap keakuratan informasi, tanggung jawab pengguna, dan etika akademik. Dengan demikian, perkembangan teknologi tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga menuntut kemampuan kritis dalam penggunaannya.
Tema AI juga menjadi salah satu topik tugas makalah mahasiswa. Sistem tugas dilakukan dengan membagikan tema secara merata, sehingga setiap mahasiswa memperoleh satu isu tertentu untuk dikaji secara lebih mendalam melalui penyusunan makalah akademik.
FILANTROPI, MODERASI BERAGAMA, SDGs, DAN EKOLOGI
Cakupan perkuliahan semakin luas dengan pembahasan mengenai Islam dan filantropi. Tema tersebut dihubungkan dengan kehidupan sosial sekaligus isu komodifikasi agama dan perkembangan peradaban. Selain itu, pembahasan diarahkan pada posisi Islam Indonesia di era global, termasuk moderasi beragama, kemaslahatan, SDGs, serta hubungan Islam dengan persoalan ekologi.
Masuknya isu SDGs dan ekologi menunjukkan bahwa Studi Islam juga dapat berdialog dengan persoalan pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Persoalan keislaman kontemporer dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan dimensi ritual dan doktrinal, tetapi juga menyentuh tantangan kemanusiaan, pembangunan, dan kelestarian lingkungan.
DARI ISU GLOBAL MENUJU KAJIAN AKADEMIK
Pertemuan kedua Mata Kuliah Isu-Isu Global memperlihatkan bahwa mahasiswa doktoral dihadapkan pada spektrum persoalan yang luas. HAM, radikalisme, ekonomi, media, Islamofobia, politik identitas, dialog antaragama, AI, filantropi, moderasi beragama, SDGs, dan ekologi menjadi contoh bagaimana Islam berhadapan dan berdialog dengan dinamika masyarakat global.
Pembelajaran tidak berhenti pada pengenalan daftar isu. Mahasiswa juga diarahkan untuk memilih dan mendalami tema tertentu melalui penyusunan makalah akademik, sehingga isu global ditempatkan sebagai objek yang perlu dikaji secara kritis dan ilmiah.
Melalui Giat Akademik DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) #2, perkuliahan bersama Prof. Dr. H. Agus Purnomo, M.Ag. memberikan ruang bagi mahasiswa untuk membaca Islam dalam konteks perubahan dunia yang semakin kompleks. Kajian terhadap isu-isu global tersebut memperluas perspektif mahasiswa doktoral bahwa Studi Islam perlu terus berdialog dengan persoalan kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, teknologi, media, keberagaman, dan lingkungan, sehingga kajian keislaman tetap memiliki relevansi terhadap dinamika masyarakat kontemporer.