Ponorogo, 9 September 2026 — Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam Kelas DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti pertemuan kedua Mata Kuliah Metodologi Studi Islam bersama Prof. Dr. K.H. Abdul Mun’im, M.Ag., pada Rabu, 9 September 2026. Perkuliahan berfokus pada berbagai pendekatan dalam memahami dan mengkaji Islam, terutama perbedaan antara pendekatan tradisional (traditional approach) dan pendekatan modern atau ilmiah (modern/scientific approaches).
Pada pertemuan ini dijelaskan bahwa Studi Islam tidak cukup dilakukan hanya melalui pembacaan tekstual. Islam memiliki dimensi yang luas sehingga dapat dipahami dengan berbagai pendekatan. Perbedaan pendekatan tersebut memungkinkan ajaran dan fenomena Islam dikaji dari sisi teks, konteks, sejarah, masyarakat, budaya, hingga pengalaman manusia.
PENDEKATAN TRADISIONAL DAN MODERN DALAM STUDI ISLAM
Pembahasan membagi pendekatan dalam Studi Islam ke dalam dua kelompok besar. Pertama adalah pendekatan tradisional, yaitu pendekatan yang memberikan perhatian utama pada doktrin, teks-teks keagamaan, dan normativitas ajaran Islam. Pendekatan ini banyak digunakan dalam kajian seperti fikih, tafsir, akidah, Al-Qur’an, Hadis, dan khazanah keislaman lainnya.
Pendekatan tradisional melihat agama dari dalam (inside point of view), sehingga perhatian utamanya berkaitan dengan pemahaman terhadap ajaran, hukum, kewajiban, serta kebenaran agama. Kesakralan wahyu dan sumber-sumber keislaman menjadi bagian penting dalam pendekatan ini.
Kelompok kedua adalah pendekatan modern atau ilmiah (modern/scientific approaches). Pendekatan ini menggunakan perangkat ilmu pengetahuan untuk mengkaji Islam dan fenomena keagamaan. Beberapa pendekatan yang dibahas dalam perkuliahan meliputi pendekatan sosiologis, empiris, historis, filologis, psikologis, serta berbagai pendekatan ilmu sosial dan humaniora lainnya.
Pendekatan modern menempatkan Islam sebagai objek kajian ilmiah. Islam tidak hanya dilihat sebagai doktrin keagamaan, tetapi juga dapat dipelajari sebagai fenomena sosial, budaya, dan historis. Dengan kerangka tersebut, peneliti dapat melihat bagaimana Islam hadir, dipahami, dan dipraktikkan dalam kehidupan manusia.
Perkuliahan juga membahas bahwa dalam pendekatan modern, peneliti Studi Islam tidak harus seorang Muslim. Kajian terhadap Islam secara akademik dapat dilakukan oleh siapa pun sepanjang menggunakan perangkat keilmuan yang sesuai. Dalam sejarah perkembangannya, pendekatan semacam ini juga banyak diperkenalkan dan dikembangkan melalui kajian para orientalis terhadap Islam, terutama dalam penelitian teks, sejarah, hukum, dan kebudayaan.
ISLAM SEBAGAI OBJEK KAJIAN ILMIAH
Penempatan Islam sebagai objek kajian membawa konsekuensi metodologis bagi peneliti. Dalam pendekatan modern, peneliti perlu menjaga jarak akademik dengan objek yang diteliti dan tidak membawa sikap emosional ke dalam proses analisis. Objektivitas diperlukan agar fenomena yang dikaji dapat dipahami secara kritis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dari sudut pandang ini, agama dapat dilihat dalam dua dimensi. Secara subjektif, agama hadir sebagai doktrin dan keyakinan yang dihayati oleh pemeluknya. Secara objektif, agama dapat diamati melalui ekspresi sosial dan budayanya. Praktik keagamaan, perilaku masyarakat, tradisi, institusi, dan berbagai ekspresi kehidupan umat dapat menjadi objek penelitian.
Pendekatan modern dengan demikian membuka ruang untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan empiris mengenai kehidupan umat beragama. Misalnya, hubungan antara ketaatan beribadah dengan kondisi sosial atau ekonomi seseorang dapat ditempatkan sebagai persoalan penelitian. Pertanyaan semacam itu tidak cukup dijawab melalui penilaian normatif, tetapi membutuhkan data dan analisis sesuai dengan pendekatan yang digunakan.
Meskipun demikian, penggunaan pendekatan ilmiah dalam Studi Islam tidak dimaksudkan untuk menghilangkan nilai dan kesakralan wahyu. Perbedaan pendekatan justru memberikan perangkat untuk melihat hubungan antara ajaran normatif dengan konteks tempat ajaran tersebut dipahami dan dipraktikkan.
MEMAHAMI TEKS, KONTEKS, DAN PENGALAMAN MANUSIA
Salah satu benang merah penting dalam perkuliahan adalah bahwa mempelajari Islam berarti memahami teks, konteks, dan pengalaman manusia secara seimbang. Ketiga dimensi tersebut memberikan gambaran mengenai luasnya wilayah kajian dalam Metodologi Studi Islam.
Teks mencakup Al-Qur’an, Hadis, dan berbagai khazanah keislaman. Konteks mencakup latar belakang sosial, sejarah, budaya, dan politik yang berhubungan dengan suatu persoalan. Sementara itu, pengalaman manusia berkaitan dengan bagaimana ajaran Islam dipahami, dihayati, dan dipraktikkan oleh manusia dalam kehidupan nyata.
Kerangka tersebut membantu mahasiswa melihat bahwa pemahaman terhadap teks tidak dapat selalu dilepaskan dari konteks. Pembacaan yang hanya berhenti pada teks secara kaku dan literal berpotensi mengabaikan kondisi sosial, sejarah, serta pengalaman manusia yang mengitarinya. Karena itu, metodologi memberikan perangkat untuk membangun pemahaman yang lebih luas dan komprehensif.
MANFAAT PENDEKATAN DALAM METODOLOGI STUDI ISLAM
Pembahasan selanjutnya diarahkan pada berbagai manfaat penggunaan pendekatan dalam Studi Islam. Salah satunya adalah kemampuan untuk membedakan dan menghubungkan antara teks dan konteks. Dengan memahami keduanya, mahasiswa dapat melihat bagaimana suatu teks keagamaan dipahami dalam situasi yang berbeda dan bagaimana konteks memengaruhi proses pemaknaan.
Pendekatan metodologis juga memiliki manfaat dalam mencegah pembacaan teks secara parsial dan kaku yang dapat mengarah pada ekstremisme. Pembacaan yang komprehensif membantu menghindari praktik cherry-picking atau mengambil bagian tertentu dari teks tanpa memperhatikan keseluruhan konteksnya.
Selain itu, Metodologi Studi Islam memberikan perangkat untuk membaca dan merespons isu-isu kontemporer, termasuk perkembangan Artificial Intelligence (AI), hak asasi manusia (HAM), serta berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan lainnya. Persoalan-persoalan baru membutuhkan kemampuan mempertemukan sumber dan tradisi keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan masyarakat.
Manfaat lainnya adalah mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern. Pendekatan yang beragam membantu mengurangi sekat antara keilmuan agama dan sains, sekaligus membuka kemungkinan dialog antardisiplin. Kajian Islam dapat berdialog dengan sosiologi, sejarah, psikologi, filologi, dan disiplin lain sesuai dengan karakter persoalan yang dikaji.
Perkuliahan juga menempatkan metodologi sebagai perangkat untuk menghargai perbedaan, membangun dialog antarkepercayaan, serta menyeimbangkan akal dan wahyu. Sikap kritis dalam Studi Islam perlu disertai kemampuan melakukan kritik sumber secara rigor (rigorous source criticism), sehingga kesimpulan akademik dibangun berdasarkan sumber dan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan.
STUDI ISLAM YANG HOLISTIK, ADAPTIF, DAN MULTIDIMENSIONAL
Rangkaian pembahasan memperlihatkan bahwa Metodologi Studi Islam bersifat holistik, adaptif, dan multidimensional. Studi Islam tidak hanya membahas persoalan halal-haram atau sah-tidak sah, tetapi juga membuka ruang untuk memahami latar belakang historis, sosiologis, empiris, psikologis, budaya, serta berbagai dimensi lain dari kehidupan umat Islam.
Pendekatan tradisional dan modern dengan demikian memberikan sudut pandang yang berbeda dalam mengkaji Islam. Pendekatan tradisional memberikan perhatian pada dimensi normatif, doktrin, dan teks keagamaan, sedangkan pendekatan modern memperluas kajian menuju fenomena historis, sosial, empiris, dan kemanusiaan. Keduanya memberikan gambaran mengenai luasnya wilayah yang dapat dikembangkan dalam Studi Islam.
Bagi mahasiswa doktoral, keragaman pendekatan tersebut memiliki arti penting. Penelitian pada jenjang doktor tidak cukup hanya menentukan tema atau objek kajian. Mahasiswa perlu memahami dari sudut pandang apa objek tersebut dilihat, pendekatan apa yang digunakan, bagaimana posisi peneliti terhadap objek, serta bagaimana teks dan konteks ditempatkan dalam proses analisis.
Melalui Giat Akademik DSI-C (Mahasiswa Beasiswa LPPD 2026) #2, perkuliahan Metodologi Studi Islam bersama Prof. Dr. K.H. Abdul Mun’im, M.Ag. memberikan penguatan kepada mahasiswa mengenai pentingnya keragaman pendekatan dalam memahami Islam. Dari pendekatan tradisional, sosiologis, empiris, historis, filologis, psikologis, hingga berbagai pendekatan modern lainnya, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Islam dapat dikaji dari berbagai sudut pandang tanpa menghilangkan nilai dan kesakralan wahyu.
Pada akhirnya, pertemuan kedua ini menegaskan satu pemahaman penting bahwa mempelajari Islam berarti memahami teks, konteks, dan pengalaman manusia secara seimbang. Kerangka tersebut menjadi dasar untuk mengembangkan Studi Islam yang kritis, komprehensif, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta tetap mampu berdialog dengan nilai dan sumber-sumber keislaman.