Muslim Seutuhnya, Ilmuan Sesungguhnya: Mahasiswa S3 Beasiswa Madin DSI UIN Ponorogo Awali Perjalanan Doktoral Dengan Mengikuti Studium Generale di Islamic Centre Surabaya

SURABAYA – 10 September 2026. Sepuluh mahasiswa Program Studi Doktor Studi Islam (S3 DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo mengikuti Studium Generale dan Kuliah Perdana Program Beasiswa Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyyah (LPPD) Pemerintah Provinsi Jawa Timur Sekaligus Launching Pusat Riset Pesantren Jawa Timur di Islamic Centre Surabaya pada Kamis, 10 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para penerima beasiswa untuk memasuki perjalanan akademik yang lebih serius pada jenjang pendidikan doktoral.

Tahun ini, Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dipercaya oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui LPPD sebagai salah satu perguruan tinggi penyelenggara pendidikan dan studi doktor bagi penerima Beasiswa LPPD. Sebanyak 10 mahasiswa mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan S3 Program Studi Doktor Studi Islam melalui skema beasiswa yang selama ini dikenal dengan Beasiswa Madin tersebut.

Keikutsertaan mahasiswa S3 DSI Ponorogo dalam Studium Generale tidak sekadar menjadi agenda seremonial pembukaan perkuliahan. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang akademik untuk mempertemukan para penerima beasiswa dari berbagai jenjang pendidikan S1, S2, dan S3 serta dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta di Jawa Timur.

Para mahasiswa S3 DSI Ponorogo hadir didampingi oleh Dr. Sugiyar, M.Pd., selaku Wakil Direktur Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo; Dr. Wildan Nafi’i, Sekretaris Program Studi Doktor Studi Islam; serta Dr. Muhammad Muchlish Huda dari Centre of Islam, Society and Cultural Studies (CISCS) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Membuka Horizon Akademik di Awal Perjalanan Doktoral

Kuliah perdana dan Studium Generale tersebut menghadirkan Dr. (H.C.) Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si., Gubernur Jawa Timur, sebagai Keynote Speaker. Sementara itu, kegiatan secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, M.A., Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur. Dalam paparan materinya Gubernur Jawa Timur yang dikenal dengan gagasan dan terobosannya yang transformatif tersebut menyampaikan mengenai pentingnya membangun tradisi keilmuan pesantren sebagai epicentrum peradaban Islam yang moderat. Dalam rangka menuju visi besar tersebut maka diperlukan integrasi keilmuan modern dengan tradisi keilmuan pesantren yang kuat. STEM menjadi salah satu kunci utama bagi para santri untuk berfikir lebih terbuka tetapi tetap diproduksi dengan penguatan turots klasik atau Nahdlotu al-Turots begitulah Gubernur mengutip apa yang disampaikan oleh Dr. KH. Afifuddin Muhajir.

Forum tersebut menjadi kesempatan bagi para penerima beasiswa untuk memperoleh perspektif akademik yang lebih luas sebelum memasuki perjalanan pendidikan mereka masing-masing. Bagi mahasiswa doktoral, momentum semacam ini memiliki arti penting karena studi pada jenjang S3 tidak lagi semata-mata diarahkan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan membaca persoalan, mengonstruksi argumentasi, menguji teori, dan menghasilkan pengetahuan baru tetapi tetap berdiri di atas tradisi keilmuan dan keulamaan salaf al-sholih.

Dalam konteks tersebut, Studium Generale menjadi semacam ruang perjumpaan intelektual. Para mahasiswa tidak hanya datang untuk menerima informasi, tetapi juga untuk memperluas horizon berpikir melalui pertemuan dengan gagasan, pengalaman, dan perspektif yang beragam.

Bagi mahasiswa S3 DSI Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, pengalaman ini sekaligus menjadi bagian dari proses memasuki tradisi akademik yang menuntut kedalaman refleksi, ketajaman analisis, dan kemampuan membangun argumentasi ilmiah.

Beasiswa sebagai Jalan Menuju Produksi Pengetahuan

Program beasiswa LPPD tidak berhenti pada penyediaan akses pendidikan. Dalam perspektif akademik utamanya dalam konteks mengemban amanah visi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara, beasiswa dapat dipahami sebagai investasi pengetahuan untuk pengembangan masyarakat madani. Penerima beasiswa pada akhirnya tidak hanya diharapkan menyelesaikan studi, tetapi juga mampu mengembangkan kapasitas intelektual dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Terlebih bagi mahasiswa doktoral, pendidikan merupakan proses transformasi dari consumer of knowledge menjadi producer of knowledge. Mahasiswa S3 tidak cukup hanya memahami teori dan literatur yang telah tersedia, tetapi dituntut mampu menemukan persoalan, membangun perspektif kritis, serta menghasilkan kontribusi akademik yang memiliki relevansi sosial.

Semangat tersebut sejalan dengan karakter pendidikan doktoral di Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo yang menempatkan tradisi akademik, kedalaman keilmuan, dan kematangan berpikir sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.

Karena itu, kehadiran sepuluh mahasiswa S3 DSI dalam kegiatan Studium Generale dan Kuliah Perdana bagi penerima beasiswa LPPD di Islamic Centre Surabaya juga dapat dilihat sebagai bagian dari proses membangun jejaring akademik yang lebih luas. Mereka berada dalam ruang yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai disiplin, jenjang pendidikan, perguruan tinggi, serta latar pengalaman.

Menjalin Jejaring Akademik, Memperluas Perspektif Keilmuan

Pertemuan seluruh penerima Beasiswa LPPD Provinsi Jawa Timur di Islamic Centre Surabaya memberikan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa. Mahasiswa S1, S2, dan S3 dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta berkumpul dalam satu ruang akademik.

Keragaman tersebut menghadirkan kemungkinan terjadinya pertukaran gagasan yang melampaui batas institusi. Setiap mahasiswa membawa pengalaman akademik, tradisi keilmuan, dan perspektif yang berbeda. Dalam konteks pendidikan tinggi, perjumpaan semacam ini memiliki nilai penting karena pengetahuan berkembang bukan hanya melalui proses belajar di ruang kelas, tetapi juga melalui dialog dan interaksi dengan berbagai komunitas akademik.

Bagi mahasiswa doktoral, kemampuan membangun jejaring intelektual merupakan bagian penting dari perjalanan akademik. Disertasi dan penelitian doktoral tidak lahir dalam ruang yang terisolasi, melainkan tumbuh melalui dialog dengan teori, literatur, komunitas ilmiah, serta realitas sosial yang terus berubah.

Dengan demikian, Studium Generale LPPD di Islamic Centre Surabaya menjadi titik awal bagi para penerima beasiswa untuk membangun kesadaran bahwa perjalanan pendidikan mereka bukan sekadar perjalanan memperoleh gelar akademik. Ia merupakan perjalanan intelektual yang menuntut komitmen terhadap ilmu pengetahuan dan tanggung jawab sosial.

Menapaki Tradisi Akademik Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari

Bagi sepuluh mahasiswa S3 DSI yang menerima Beasiswa LPPD, kuliah perdana tersebut sekaligus menjadi pintu masuk menuju perjalanan akademik di Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.

Sebagai institusi pendidikan doktoral, Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo memiliki tradisi akademik yang menempatkan studi Islam tidak hanya sebagai proses memahami teks dan doktrin keagamaan, tetapi juga sebagai upaya membaca fenomena keislaman secara kritis, mendalam, dan kontekstual.

Tradisi tersebut menuntut mahasiswa untuk memiliki keberanian intelektual dalam mempertanyakan asumsi, kemampuan metodologis dalam membaca persoalan, serta kecakapan teoritis untuk menjelaskan realitas secara akademik.

Karena itu, perjalanan sepuluh mahasiswa penerima Beasiswa LPPD ini ke depan bukan hanya tentang bagaimana menyelesaikan sejumlah mata kuliah atau memenuhi persyaratan akademik. Lebih jauh, mereka sedang memasuki proses panjang pembentukan diri sebagai akademisi dan intelektual yang diharapkan mampu menghasilkan pengetahuan baru dalam bidang Studi Islam.

Studium Generale di Islamic Centre Surabaya dengan demikian menjadi sebuah awal: dari kesempatan memperoleh beasiswa menuju tanggung jawab keilmuan; dari ruang perkuliahan menuju ruang produksi pengetahuan; dan dari status mahasiswa menuju proses panjang pembentukan seorang intelektual doktoral.

Di titik inilah beasiswa menemukan makna akademiknya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar fasilitas untuk menempuh pendidikan, tetapi juga amanah untuk mengembangkan ilmu, memperluas jejaring intelektual, dan pada akhirnya menghadirkan kontribusi yang bermakna bagi masyarakat, pesantren, pendidikan, serta perkembangan Studi Islam di Jawa Timur.

Berita Terbaru