Ponorogo, 30 Juni 2026 – Transformasi pendidikan pada abad ke-21 menuntut pembelajaran yang tidak lagi berorientasi pada penguasaan materi semata, tetapi mampu membentuk peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), tantangan tersebut menjadi semakin penting karena pembelajaran PAI diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memahami ajaran agama secara normatif, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skillsatau HOTS) dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang semakin kompleks.
Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian Ririn Nuraini, mahasiswa Program Doktor Studi Islam Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Dalam Seminar Hasil Penelitian Disertasi yang diselenggarakan pada Selasa, 30 Juni 2026, Ririn mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif PAI Berbasis HOTS untuk Penguatan Kompetensi Abad 21 (Penelitian dan Pengembangan Transdisipliner di SMKN 1 Ponorogo).”

Penelitian ini berangkat dari praktik pembelajaran PAI di SMKN 1 Ponorogo yang telah mengimplementasikan berbagai model pembelajaran inovatif berbasis HOTS, seperti Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), dan Inquiry Based Learning. Ketiga model tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik melalui pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berbasis pemecahan masalah, dan kontekstual.
Dalam pemaparannya, Ririn menjelaskan bahwa secara psikologis peserta didik pada usia sekitar 11 tahun ke atas telah memasuki tahap operasional formal, yaitu fase perkembangan kognitif ketika kemampuan berpikir abstrak, logis, dan kritis mulai berkembang. Oleh karena itu, pembelajaran PAI sudah seharusnya dirancang untuk mendorong kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi sebagai bagian dari penguatan kompetensi abad ke-21.
Temuan tersebut dipresentasikan di hadapan tim penguji yang dipimpin oleh Prof. Dr. Agus Purnomo, M.Ag, Direktur Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, selaku Ketua Sidang. Hadir sebagai Penguji I, Prof. Dr. Ju’subaidi, M.Ag, Penguji II, Dr. Retno Widyaningrum, M.Pd, serta Dr. Edi Irawan, M.Pd Wakil Rektor II UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sebagai Penguji III.

Diskusi akademik berlangsung dinamis dan lebih banyak diarahkan pada penguatan novelty, indikator pengukuran HOTS, serta pengembangan model pembelajaran yang benar-benar menjadi kontribusi baru dari penelitian tersebut.
Dalam arahannya, Prof. Dr. Agus Purnomo, M.Ag menekankan bahwa penelitian pengembangan tidak cukup hanya menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis HOTS telah diterapkan di sekolah. Menurutnya, penelitian harus mampu menjelaskan pada level mana kemampuan HOTS peserta didik berada melalui indikator yang terukur.
Ia menggarisbawahi bahwa keberadaan indikator tersebut sangat penting karena menjadi dasar bagi peneliti untuk menentukan sejauh mana data lapangan masih perlu digali. Tanpa indikator yang jelas, sulit memastikan apakah implementasi HOTS benar-benar telah membentuk kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik atau baru sebatas penerapan model pembelajaran.

Selain itu, Prof. Agus memberikan perhatian khusus terhadap novelty penelitian. Menurutnya, sebagai disertasi doktor, penelitian harus mampu menawarkan model pembelajaran baru yang memiliki kontribusi ilmiah yang jelas bagi pengembangan Pendidikan Agama Islam.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof. Dr. Ju’subaidi, M.Ag yang menilai bahwa kemampuan critical thinking, kemampuan mengevaluasi, dan kemampuan mencipta tidak dapat diukur hanya melalui deskripsi pembelajaran guru. Menurutnya, indikator-indikator HOTS harus dibangun melalui instrumen pertanyaan yang secara spesifik mengarah pada kemampuan peserta didik.
Ia menyarankan agar peneliti tidak hanya mewawancarai guru, tetapi juga melibatkan siswa sebagai sumber data utama sehingga implementasi HOTS dapat diverifikasi secara lebih objektif. Menurut Prof. Ju’subaidi, data penelitian saat ini masih didominasi hasil wawancara sehingga perlu diperkuat melalui klarifikasi dan triangulasi data.

Ia juga mendorong agar daftar pertanyaan penelitian diarahkan secara lebih spesifik pada indikator kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam Taksonomi Bloom Revisi, yaitu C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (mencipta). Dengan demikian, peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai implementasi HOTS di lapangan.
Masukan yang lebih teknis disampaikan oleh Dr. Retno Widyaningrum, M.Pd. Ia menilai bahwa instrumen penelitian masih perlu dikembangkan secara lebih rinci, terutama berkaitan dengan aspek inovasi pembelajaran.
Menurutnya, peneliti perlu menyusun kembali daftar pertanyaan yang mampu mengungkap berbagai aspek media pembelajaran yang digunakan, mulai dari fungsi, manfaat, karakteristik, hingga klasifikasi media yang mendukung pembelajaran berbasis HOTS.
Lebih lanjut, Dr. Retno mengingatkan bahwa HOTS tidak hanya tampak pada proses pembelajaran, tetapi juga harus tercermin dalam proses penilaian. Oleh karena itu, bukti-bukti mengenai instrumen asesmen berbasis HOTS, indikator penilaiannya, serta implementasi kompetensi abad ke-21 perlu digali secara lebih mendalam sehingga selaras dengan instrumen penelitian yang telah disusun.
Ia juga memberikan perhatian terhadap kontribusi ilmiah penelitian. Menurutnya, disertasi ini perlu memperlihatkan secara eksplisit model pengembangan pembelajaran berbasis HOTS yang ditawarkan sebagai kebaruan (novelty), sehingga penelitian tidak berhenti pada deskripsi praktik pembelajaran yang telah berlangsung di sekolah.

Sementara itu, Dr. Edi Irawan, M.Pd memberikan catatan mengenai pentingnya memperbarui rujukan teoritik yang digunakan dalam penelitian. Menurutnya, kajian mengenai HOTS terus berkembang seiring perubahan paradigma pendidikan global.
Ia mengingatkan bahwa konsep kemampuan berpikir tingkat tinggi, termasuk klasifikasi C4, C5, dan C6, sangat mungkin telah mengalami perkembangan konseptual maupun implementatif. Oleh sebab itu, peneliti perlu memperkaya referensi mutakhir agar kerangka teorinya tetap relevan dengan perkembangan terbaru dalam bidang pendidikan.
Seminar hasil penelitian ini menunjukkan komitmen Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo dalam membangun budaya akademik yang kritis, konstruktif, dan berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui forum seminar hasil, mahasiswa tidak hanya memperoleh evaluasi terhadap hasil penelitiannya, tetapi juga mendapatkan arahan untuk memperkuat kontribusi teoritis maupun praktis dari disertasinya.
Melalui berbagai masukan yang berkembang dalam seminar, penelitian Ririn Nuraini diarahkan untuk bergerak dari sekadar mendeskripsikan implementasi pembelajaran HOTS menuju pengembangan model pembelajaran PAI berbasis HOTS yang memiliki indikator yang terukur, instrumen yang tervalidasi, serta kontribusi nyata bagi penguatan kompetensi abad ke-21. Dengan demikian, disertasi ini diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah akademik dalam bidang Pendidikan Agama Islam, tetapi juga menjadi referensi bagi pengembangan pembelajaran inovatif di lingkungan pendidikan Indonesia.