Ponorogo, 25 Juni 2026 – Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap krisis lingkungan dan perubahan iklim, pendidikan Islam dituntut tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga mengembangkan kesadaran ekologis yang berorientasi pada keberlanjutan kehidupan. Dalam konteks tersebut, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki tradisi panjang dalam pembentukan karakter dinilai memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas Islam dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Isu inilah yang menjadi fokus utama penelitian disertasi Mukhlas Habibi, mahasiswa Doktor Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Melalui disertasi berjudul “Konstruksi Model Pendidikan Akhlaq Perspektif Eco-Sufisme dalam Membentuk Akhlaq Ekologis Santri: Studi Etnografi di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta”, Mukhlas berupaya mengungkap bagaimana pendidikan akhlak yang berbasis spiritualitas sufistik dapat menjadi instrumen penting dalam membangun kesadaran dan perilaku ekologis santri.

Penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa krisis lingkungan pada hakikatnya tidak hanya disebabkan oleh persoalan teknis dan ekonomi, tetapi juga berakar pada krisis moral dan spiritual manusia dalam memandang alam. Karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang mampu menghubungkan dimensi ketuhanan, kemanusiaan, dan lingkungan secara integral. Dalam perspektif eco-sufisme, alam dipahami sebagai manifestasi ayat-ayat Tuhan yang harus dihormati, dijaga, dan dipelihara sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Melalui pendekatan etnografi yang dilakukan di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Mukhlas menemukan bahwa pembentukan akhlak ekologis santri tidak dilakukan melalui pembelajaran lingkungan secara formal semata, melainkan dibangun melalui sistem nilai, kultur pesantren, keteladanan kiai, tradisi spiritual, serta berbagai praktik keseharian yang menanamkan kesadaran ekologis secara berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Mukhlas menjelaskan bahwa pendidikan akhlak berbasis eco-sufisme di lingkungan pesantren dibangun melalui integrasi antara nilai-nilai tauhid, ajaran tasawuf, pembiasaan hidup sederhana, penghormatan terhadap alam, dan praktik sosial yang mencerminkan tanggung jawab ekologis. Melalui proses tersebut, santri tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga menghayatinya sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam.
Temuan penelitian tersebut dipresentasikan dalam Seminar Hasil Penelitian Disertasi yang diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada Kamis, 25 Juni 2026. Seminar ini merupakan bagian dari tahapan akademik yang harus dilalui mahasiswa doktor dalam rangka penyempurnaan hasil penelitian disertasinya.

Sebagai program doktor yang mengembangkan berbagai konsentrasi keilmuan Islam, DSI Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo terus mendorong lahirnya penelitian-penelitian inovatif yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penyelesaian berbagai persoalan kontemporer. Melalui forum seminar hasil, mahasiswa memperoleh ruang dialog ilmiah untuk menguji, memperdalam, dan menyempurnakan konstruksi teoritik maupun temuan empiris yang dihasilkan dari penelitian mereka.
Seminar hasil penelitian disertasi Mukhlas Habibi dipimpin oleh Prof. Dr. Agus Purnomo, M.Ag, Direktur Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, yang bertindak sebagai Ketua Sidang. Hadir sebagai Penguji Utama, Dr. Mambaul Ngadhimah, M.Ag. Sementara itu, Nur Kholis, Ph.D selaku Co-Promotor bertindak sebagai Penguji II, dan Dr. Basuki, M.Ag, Ketua Program Studi Doktor Studi Islam, bertugas sebagai Penguji III sekaligus Sekretaris Sidang.
Dalam sesi diskusi, para penguji memberikan berbagai masukan akademik terkait penguatan kerangka konseptual eco-sufisme, relevansi model pendidikan yang ditawarkan terhadap pengembangan pendidikan Islam kontemporer, serta peluang implementasi model tersebut pada lembaga pendidikan Islam lainnya. Diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan bahwa isu pendidikan ekologis berbasis nilai-nilai keislaman semakin memperoleh perhatian dalam pengembangan studi pendidikan Islam.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitment menegaskan komitmen Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sebagai pusat pengembangan studi Islam yang mendorong lahirnya penelitian-penelitian multidisipliner, inovatif, dan responsif terhadap tantangan zaman, baik dalam bidang pendidikan, hukum, dakwah, politik hukum Islam, maupun isu-isu kemanusiaan dan lingkungan hidup.
Redaksi Humas DSI Pasca