Ponorogo, 26 Juni 2026 – Dialog akademik yang kritis mewarnai pelaksanaan Seminar Hasil Penelitian Disertasi mahasiswa Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada Jumat (26/6/2026). Seminar atas nama Ahmad Faruq, mahasiswa Konsentrasi Filsafat Islam, menjadi ruang ilmiah yang mempertemukan kajian historiografi Islam Jawa dengan pendekatan filsafat, sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah disertasi mengalami penyempurnaan melalui kritik akademik dari para penguji.
Ahmad Faruq mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Rekonstruksi Konsep Manusia dalam Sejarah Islamisasi Jawa: Sebuah Telaah Antropologi Metafisik atas Temuan M.C. Ricklefs.” Penelitian tersebut berangkat dari pembacaan terhadap karya-karya monumental M. C. Ricklefs, terutama Mystic Synthesis in Java (2006), Polarising Javanese Society (2007), dan Islamisation and Its Opponents in Java (2012), sebagai objek material penelitian. Sementara itu, objek formal yang dikembangkan Ahmad Faruq adalah rekonstruksi konsep manusia Jawa-Islam yang tersirat dalam narasi Islamisasi Jawa melalui pendekatan antropologi metafisik.

Namun, salah satu momen yang paling menarik dalam seminar tersebut muncul ketika Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag,selaku Promotor sekaligus Penguji Utama, memberikan kritik konseptual terhadap arah argumentasi disertasi. Menurut Prof. Aksin, fokus utama penelitian Ahmad Faruq perlu dipertajam agar tidak berhenti pada kesimpulan bahwa Ricklefs mengabaikan dimensi filosofis manusia Jawa.
Dalam pandangannya, terdapat tiga kata kunci utama yang justru menjadi kontribusi penting disertasi ini.Pertama, kesalahan pembaca dalam memahami Ricklefs. Menurut Prof. Aksin, selama ini banyak pembaca memosisikan Ricklefs semata-mata sebagai sejarawan yang hanya menyusun kronologi Islamisasi Jawa. Padahal, pembacaan seperti itu belum sepenuhnya menangkap keluasan narasi yang dibangun Ricklefs.
Kedua, narasi Ricklefs sesungguhnya juga berbicara tentang manusia Jawa. Prof. Aksin menjelaskan bahwa sejarah yang ditulis Ricklefs bukan hanya memuat rangkaian peristiwa, melainkan juga menggambarkan transformasi cara hidup, kesadaran keagamaan, orientasi budaya, dan perubahan identitas masyarakat Jawa. Dengan kata lain, narasi sejarah tersebut secara implisit juga menghadirkan gambaran mengenai manusia Jawa sebagai subjek yang mengalami proses transformasi.

Ketiga, yang menjadi temuan paling penting menurut Prof. Aksin adalah bahwa dalam karya Islamisation and Its Opponents in Java (2012), Ricklefs sebenarnya tidak hanya berbicara pada level historis, tetapi juga mulai memperlihatkan dimensi-dimensi filosofis mengenai manusia Jawa. Oleh karena itu, arah penelitian Ahmad Faruq bukan untuk menyimpulkan bahwa Ricklefs sama sekali tidak berbicara mengenai filsafat manusia Jawa, melainkan menunjukkan bahwa terdapat dimensi filosofis yang masih bersifat implisit dan belum dibaca secara sistematis melalui perspektif antropologi metafisik.
“Justru kekuatan disertasi ini selain membuktikan bahwa Ricklefs kurang tepat dalam membaca manusia Islam Jawa, juga menunjukkan bahwa pembacaan terhadap Ricklefs selama ini belum tuntas. Ricklefs telah membuka ruang menuju pembahasan manusia Jawa, dan disertasi ini bertugas membaca, merekonstruksi, serta mengelaborasi dimensi filosofis yang masih tersirat di dalam narasi tersebut,” demikian garis besar arahan akademik yang disampaikan Prof. Aksin Wijaya dalam forum seminar.
Masukan tersebut menggeser orientasi penelitian dari sekadar kritik terhadap historiografi menuju rekonstruksi epistemologis atas cara membaca karya Ricklefs. Dengan demikian, kontribusi disertasi Ahmad Faruq menjadi lebih kuat karena tidak menempatkan Ricklefs sebagai objek koreksi, melainkan sebagai pijakan intelektual yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pendekatan filsafat Islam.

Dalam pemaparannya, Ahmad Faruq menjelaskan bahwa pendekatan antropologi metafisik digunakan untuk mengungkap konsep manusia yang tersembunyi di balik narasi sejarah Islamisasi Jawa. Menurutnya, sejarah tidak hanya mencatat perubahan institusi, praktik keagamaan, atau konfigurasi politik, tetapi juga merekam perubahan cara masyarakat Jawa memahami hakikat dirinya, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan alam, dan posisi manusia dalam tatanan kosmos.
Seminar hasil penelitian ini diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Studi Islam (DSI) Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo sebagai bagian dari komitmennya membangun budaya akademik yang kritis dan multidisipliner. Sebagai program doktor yang menaungi berbagai konsentrasi keilmuan, DSI Pascasarjana terus memberikan ruang dialog ilmiah bagi mahasiswa untuk mengembangkan penelitian yang tidak hanya menghasilkan temuan baru, tetapi juga memperkaya tradisi intelektual Islam melalui pembacaan ulang terhadap karya-karya akademik yang telah mapan.
Seminar Hasil Penelitian Disertasi ini dipimpin oleh Dr. Sugiyar, M.Pd.I, Wakil Direktur Pascasarjana UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, selaku Ketua Sidang. Selain Prof. Dr. Aksin Wijaya, M.Ag sebagai Penguji Utama sekaligus Promotor, hadir pula Dr. Iswahyudi, M.Ag sebagai Penguji II sekaligus Co-Promotor, serta Dr. Basuki, M.Ag, Ketua Program Studi Doktor Studi Islam, sebagai Penguji III.

Diskusi berlangsung intensif dan memperlihatkan karakter akademik Program Studi Doktor Studi Islam yang tidak hanya menguji validitas data penelitian, tetapi juga mengarahkan mahasiswa untuk memperkuat bangunan epistemologis dan argumentasi konseptual disertasinya. Kritik, dialog, dan penyempurnaan argumentasi menjadi bagian penting dari proses akademik yang dijalankan di lingkungan DSI Pascasarjana.
Melalui seminar hasil ini, Ahmad Faruq memperoleh penguatan konseptual mengenai posisi disertasinya, yakni bukan semata-mata mengkritik historiografi M.C. Ricklefs, melainkan menawarkan cara baca baru terhadap karya-karya Ricklefs melalui perspektif antropologi metafisik. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkaya kajian filsafat Islam, historiografi Islam Nusantara, dan studi tentang manusia Jawa sebagai subjek utama dalam proses Islamisasi.
Redaksi Humas DSI Pasca